Refleksi (tentang) Jurnal Refleksi


Ternyata cara termudah Indonesia Mengajar untuk mengingatkan kami, Pengajar Muda untuk tetap ada di dalam semangat juang dan kecintaan berkarya adalah dengan Borang. Borang kali ini bernama Jurnal Refleksi. Borang itu memaksa kami untuk berikir. Hmmm, tidak! Lebih tepatnya berefleksi tentang apa yang sudah kami alami beberapa waktu yang lalu. Aku teringat pula dengan konteks mengalami dan melewati ala Pak Anies Baswedan. Perbedaan kata ini juga mempunyai perbedaan makna yang dramatis, dan menusuk. Melewati adalah kata untuk menggambarkan beberapa kejadian yang sudah terlewat. Sementara mengalami, bukan sekedar mengenai kejadian yang telah lewat, tetapi seberapa banyak pembelajaran yang didapat dari semua yang telah lewat tersebut. Oleh karena itu kata ‘pengalaman’ memang digunakan untuk mengukur sejauh mana seorang professional mendapatkan pelajaran dari apa yang telah dia kerjakan dan lakukan. Bukan sekedar seberapa lama dia bekerja atau ada di sebuah posisi.

Banyaknya pertanyaan dalam Borang tersebut, seperti memberi sebuah pertanyaan besar , “Apakah Anda masih ada di tujuan perjuangan yang sama? Lintasannya pasti berbeda, dan jauhnya berlari masing-masing kami pasti berbeda. Pertanyaan yang ada beragam dan luas cakupannya. Kami seperti diingatkan mengenai lintasan-lintasan yang dapat kami tempuh untuk mencapai tujuan. Beragam caranya dan jalan masuknya serta Luas sasarannya.

Adanya waktu yang berkala dalam pengumpulan borang tersebut (1,2,3,4,6 bulan dst) juga memaksa kami ingat dan sadar dengan sedikitnya waktu yang kami punya untuk mencatatkan sedikit perubahan di sekolah dan di desa kami. Ini seperti menampar keras, dan berteriak kencang di depan wajah kami, “Woy, apa aja yang loe lakukan disana selama ini !!”. Ini juga bisa berarti seperti menepuk pundak, sambil mengelus dan tersenyum berkata, “Good job,brother! Keep on the good work! ”. Atau ini juga dapat seperti mengajak menarik napas dalam dan menghelanya perlahan, “Pelan-pelan. Sedikit lebih rileks. Perubahan tidak dapat mudah terjadi dalam waktu dekat. Tetap semangat, kawan.”

Yang jelas, kami dipaksa jujur menuliskan semua yang kami capai dan lakukan di penempatan. Mudah sekali rasanya sebenarnya untuk mengubah segala Penanda Kemajuan dengan sesuatu yang lebih ‘baik’. Tidak ada pengawasan, tidak ada yang tahu. Jika untuk sekedar ‘mempercantik diri’, sangatlah mudah. Tapi sayang rasanya, ketika nanti setahun setelah di daerah penempatan, kami membaca segala portofolio pekerjaan kami, dan menemukan ‘bercak kemunafikan’ dalam catatan ‘pekerjaan amal’ kami.

Jadi, seperti yang ada di akhir setiap butir nomor pertanyaan, “Pembelajaran apa yang Anda petik? ”, apapun yang telah terjadi, apapun yang telah kamu lakukan, yang terpenting adalah sejauh mana kami bisa belajar dari semua pengalaman kami. Tidak hanya mengenai perubahan pada orang disekitar kita, tetapi juga perubahan yang ada di diri kami sendiri, Pengajar Muda. Seperti juga makna lain slogan Indonesia Mengajar, “Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi”, setahun kami disini untuk mengajar, seumur hidup pengalaman yang ada disini dapat menginspirasi diri kami sendiri.

8-9 September 20120.

06:46 WITA. Kamar, dusun Tambora

Renungan di tengah semakin menipisnya waktu untuk mengumpulkan borang, Jurnal Refleksi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s