DSC_0027

Tentang Qurban


Idul Adha kali ini aku rayakan kembali di rumah. Setelah setahun yang lalu, mencoba merasakan Idul Adha yang berbeda di tanah Tambora, Kabupaten Bima. Rasanya kangen-kangen gimana gitu dengan suasana disana. Tak ada yang aneh disana. Shalat Idul Adha dengan 20 orang, lalu selesai. Tak ada pemotongan Qurban. Biasa saja. Aku hanya berjalan-jalan ke dusun sebelah, lalu janjian dengan sahabat-sahabatku untuk menikmati hidangan ala lombok di desa sebelah. Tapi yang biasa  itulah yang menyebabkan semuanya terasa spesial.

Tidak, aku tidak ingin membahas Idul Adha disana kali ini. Aku ingin bercerita mengenai pengalaman kali ini. Kali ini di komplek aku ikut membantu pelaksanaan pemotongan hewan Qurban. Biasanya aku hanya membantu mengantarkan saja. Itupun tidak banyak yang aku bantu. Setelah merasa lelah atau bosan, aku pulang kerumah. Menghabiskan waktu seharian dirumah saja. Tanpa melakukan apapun, tanpa pergi kemanapun. Hari itu adalah hari raya. Hari yang sibuk untuk bapak dan ibuku. Bersama-sama dengan warga yang lain mengurus pelaksanaan pemotongan hewan Qurban sampai dengan distribusinya.

Kali ini aku ingin membantu. Aku pinjam sebuah pisau ke Bapakku, dan aku berangkat. Aku dibekali juga dengan kaos seragam berwarna hijau tanda panitia Qurban. Pukul 09.00 pagi panitia mulai menyembelih hewan Qurban yang sudah didaftarkan. Tahun ini, di komplek kami ada 21 Sapi dan 33 Kambing Qurban dari para Donatur. Semoga Allah menerima Qurban kita semuanya.

 

DSC_0027
Panitia Pemotongan Hewan Qurban

 

Di tempat pelaksanaan, sudah ada Dokter Hewan yang memeriksa hewan-hewan Qurban tersebut. Ada juga dokter yang memastikan daging hewan layak dimakan dengan membedah organ dalam hewan setelah di sembelih. Tempat pemotongan dibagi dua, bagian bawah sebagai tempat penyembelihan dan pemotongan daging serta tulang, dan bagian atas sebagai tempat penimbangan, pengemasan, pencatatan serta distribusi. Semua dilakukan dengan sukarela atas asas #kerjabakti oleh semua warga yang terlibat.

Layaknya #kerjabakti, semua dilakukan atas dasar saya bisa bantu apa, atau tolong kerjakan ini dong. Tidak terlalu banyak pengaturan dan koordinasi disana. Semuanya berinisiatif dan semuanya bekerja semampunya. Semuanya bekerja atas dasar pengalaman, atau kira-kira seperti ini. Menarik, semuanya bekerja bersama-sama.

Tetapi rasanya, setiap #kerjabakti juga tentunya perlu ada guideline, sehingga secara pekerjaannya, akan tercipta workflow yang lebih tertatur dan lebih efisien. Setidaknya kesepakatan bersama yang sudah ditetapkan panitia inti, atau workflow yang sudah difikirkan dapat dibagikan atau diinformasikan kepada semua orang yang #kerjabakti. Misalnya, flow tim penimbang dan pengemas di lantai atas, harusnya ada tempat yang jelas dan pembagian posisi yang jelas. Daging dari bawah akan ditaruh di tempat A, ditimbang oleh relawan A, lalu di masukan plastik oleh relawanA. Selanjutnya dioper ke tempat B, akan di masukan tulang oleh RelawanB. Selanjutnya dioper ke tempat C, di tambahkan jeroan oleh relawan C. Dioper ke tempat D, didata dan dimasukan kedalam karung besar oleh relawan D.

Aku benar-benar teringat dengan #kerjabakti ala #FestivalGIM. Semuanya rapih terkendali. Meski tidak betul-betul bulat diatur dan ridgid dari panitia inti, tetapi semua aturan kerjanya jelas. Ah, sungguh hebat kalian semua #relawanFGIM.

Yang aku perhatikan lagi adalah ketika distribusi daging yang sudah selesai dikemas. Tahun ini, ada sekitar 600 orang yang diperkirakan mengantri untuk mendapatkan hewan Qurban. Entah dari mana saja. Tetapi pada kenyataannya yang datang lebih dari 800 orang. Ini membuat panitia sempat panik dan takut tidak mencukupi. Akhirnya, sesi pengemasan terakhir-akhir jatah daging dikurangi untuk mencukupi penerima yang sudah mengantri. Sudah ada pengaturan dari panitia untuk masalah antrian ini. Para lelaki dan perempuan dipisahkan di jalur yang berbeda. Para orang tua (kira-kira 50 tahun ke atas) juga dipisahkan ke barisan yang berbeda. Sehingga minimal ada 4 barisan yang ada. Orang tua yang menggendong bayi atau anak kecil juga tidak diizinkan mengantri, karena dikhawatirkan membahayakan keselamatan anaknya.

Distribusi Daging Hewan Qurban.
Distribusi Daging Hewan Qurban.
Antrian Penerima daging Hewan Qurban
Antrian Penerima daging Hewan Qurban

 

Setiap penerima daging hewan Qurban akan mendapatkan 1 bungkus daging dan sebagai tandanya akan diberikan tinta pemilu pada jarinya. Hal ini dilakukan agar tidak ada orang yang mengantri kembali dan mendapatkan bungkus yang berlebih. Semuanya berjalan dengan aman terkendali, meskipun di awal harus ada ketegasan DAN ketegasan dari panitia untuk membuat para penerima mengantri dengan tertib.

Saat melihat ini aku membayangkan bagaimana pembagian hewan Qurban di zaman Rasulullah. Apakah ada keributan / kerusuhan saat itu. Aku tidak mendapatkan referensi yang menjawab. Yang aku dapatkan hanyalah bahwa jumlah hewan yang di Qurbankan Rasulullah saja pernah mencapai 100 unta. Jumlah yang sangat banyak dan memungkinkan pembagian yang merata ke semua calon penerima. Tapi bukan disini rasanya letak pembahasannya.

Pendataan dan Teknis Pembagian. Menurutku hal ini masih dapat diperbaiki. Proses pembagian daging Qurban sedikit berbeda dengan pembagian Beras Zakat Fitrah. Ketika Idul Fitri, pada pengurus mushalla mengajukan daftar penerima zakat yang ada di sekitar mushalla tersebut. Panitia akan memberikannya kepada pihak mushalla, lalu pengurus mushalla yang mendistribusikannya. Hal ini berbeda dengan Idul Adha yang siapa saja boleh datang untuk meminta jatah pembagian.

Sistem pembagian Kupon juga mungkin bisa dilakukan. Membagikan kupon penerima daging hewan kepada pihak mushalla, lalu meminta pemegang kupon mengambilnya sendiri dengan mensyaratkan kupon sebagai tanda penerima.

Karakter penerima, juga tak bisa aku hilangkan dari permasalahan ini. Karakter tidak terbiasa mengantri, ingin mendapatkan lebih dari jatah, dan ingin selalu lebih dulu menjadi penyebab permasalahan distribusi selalu menjadi masalah. Terinjak, saling sikut, dan mendorong menjadi awalan keributan yang sering terjadi.

Setelah semuanya aku lihat, aku jadi berfikir mendalam kembali. Berarti berebutannya para penerima untuk mendapatkan daging qurban masih menunjukkan bahwa “moment Qurban” belum terlalu banyak mereka rasakan. Momen berbagi dari yang lebih mampu kepada yang kurang mampu masih hanya mengenal kata ritual. Belum mendarah daging menjadi sebuah kebiasaan yang diulang setiap bulan, bahkan setiap hari. Masih perlu kita bertanya pada diri sendiri, apakah sebenarnya Qurban terbaik hanya cukup satu tahun sekali.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s