043

Misteri Gitar Kecil Andi


Naik-naik ke puncak gunung, tinggi tinggi sekali . Kiri kanan kulihat saja, banyak pohon cemara

Anak-anak itu bernyanyi riang saat berangkat sekolah. Meskipun untuk sampai ke sekolah mereka harus berjalan lebih dari tiga kilometer, tapi berkat berjalan bersama-sama dan bernyanyi, mereka tidak pernah merasakan lelah. Senang saja yang mereka rasa.

Terlebih lagi setelah Ayahnya Andi membelikan Andi sebuah gitar kecil beberapa hari yang lalu. Andi langsung minta diajarkan bagaimana memainkan lagu “Naik-Naik Ke Puncak Gunung” oleh Ayahnya. Ayahnya pun mengajarkannya beberapa kunci dasar dan langsung dihapal oleh Andi. Meskipun masih banyak salahnya, Andi sudah merasa bisa memainkan gitar kecilnya. Setelah bisa memainkannya, hari ini Andi baru berani membawanya ke sekolah. Berulang kali diulang lagu itu saja. Tak ada lagu lain yang bisa Andi mainkan.

Mau bagaimana lagi. Yang bisa memainkan gitar kecil itu baru Andi. Seumur-umur anak-anak yang lain belum pernah melihat gitar secara langsung. Cuma dari buku pelajaran saja. Maklum, tinggal di kampung di lereng gunung Tambora membuat mereka tidak merasakan perkembangan jaman yang sudah pesat, termasuk musik. Satu-satunya alat musik yang pernah mereka lihat hanyalah harmonika kecilnya Arif.

Sesampainya di sekolah, sesuai perkiraan Andi, anak-anak yang lain langsung mengerubunginya. Takjub. Andi dengan bangga memainkannya.

“Lihat, baguskan si Moza. Dia bagus sekali seperti namanya., Dan baru aku saja yang bisa memainkan gitar seperti ini”, jelas Andi dengan sombong.

“Di, boleh gak aku pinjam sebentar. Aku mau coba rasanya memegang gitar”, pinta Arif.

Gak boleh. Ini baru di belikan sama Ayahku. Lagipula, apa kamu bisa memainkannya?! Gak bisa kan?! Nanti rusak, lagi”, hardik Andi kasar.

“Ya, kan aku cuma mau pegang saja sebentar. Ya sudah kalau gak boleh, jawab Arif menjauh.

Andi memang sayang sekali dengan Moza, gitar kecilnya. Tak ada satupun dari temannya yang diijinkan menyentuhnya. Saat pelajaran sekolah, Moza ditaruh di samping mejanya. Tak pernah jauh dari pandangannya.

….

Tanpa Andi ketahui, ternyata bukan cuma Arif yang kesal karena perbuatan Andi. Tapi juga Moza. Dia ternyata bukan sembarang gitar kecil biasa. Dia adalah gitar ajaib yang diberikan oleh Ayahnya. Dia punya hati yang bisa merasakan betapa tidak baiknya sifat Andi. Dia merencanakan sesuatu agar Andi, sang pemiliknya berubah menjadi anak yang tidak sombong.

Keesokan harinya, ada sesuatu yang terjadi dengan Moza.

“Duh, ini kenapa sih Moza. Kok suaranya jadi aneh gini. Gak enak lagi kedengerannya.”, keluh Andi saat memainkan gitarnya lagi saat berangkat sekolah.

“Iya, kok jadi aneh ya kedengarannya. Jadi sember suaranya”, kata Rudi.

Andi semakin panik. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan Moza kesayangannya. Sesampainya di sekolah, ia tak berani lagi memamerkan gitarnya kepada teman-temannya. Dia langsung masuk kelas dan menyimpannya. Duduk diam sendiri di kelas. Sepanjang hari Andi juga hanya diam saja di kelasnya. Tak mau dia bermain saat waktunya istirahat. Sepulang sekolah, dia langsung lari sendiri meninggalkan teman-temannya. Dia ingin pulang ke rumah secepatnya. Menahan malu. Dia langsung mencari Ayahnya. Tapi sayangnya Ayahnya sedang bekerja di ladang. Dan baru pulang saat sore hari.

“Yah, yah. Ini kenapa sih gitarnya yah. Kok berubah jelek suaranya.”, tanya Andi langsung ketika ia melihat Ayahnya pulang.

“Aku tidak apa-apakan yah. Aku tinggal tidur kemarin, pas pagi-paginya ternyata sudah berubah suaranya. Aku bingung juga kenapa”, sambung Andi.

“Hmm. Apa ada yang terjadi saat kau bawa gitar ini ke sekolah?”, tanya Ayahnya.

“Tak ada apa-apa yah. Cuma aku tidak meminjamkan ke teman-temanku saja”, jawab Andi kepada Ayahnya sambil tertunduk. Andi menceritakan kejadian sewaktu dia menolak meminjamkan gitarnya kepada Arif dan teman-teman yang lain.

Ya sudah. Tak apa. Sekarang, kamu istirahat saja. Besok pagi, kamu temui Arif dan meminta maaf padanya tentang kejadian kemarin. Jangan lupa bawa gitar ini, sampaikan pesan ini padanya.” Kata Ayahnya sambil tersenyum menyerahkan sebuah catatan kecil.

Keesokan paginya, sesampainya disekolah dia menemui Arif. Meminta maaf atas apa yang telah ia perbuat. Arif pun dengan senang hati memaafkan. Andi juga memberikan pesanan ayahnya kepada Arif. Arif pun menerima kertas itu dan membacanya. Dia membaca sejenak, mencoba mengerti arti dari pesan Ayah Andi itu. Dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah harmonika. Dia meniup sebuah nada, sambil meminjam gitar Andi, dia mulai memutar-mutar putaran yang ada di atas gitar itu. Menyamakan suaranya. Dia kadang terdiam. Mencoba dengan tenang mendengarkannya. Tak lama kemudian, dia menyerahkan kembali kepada Andi.

Andi mencoba memainkan kembali si Moza. Dia memainkan kembali lagu Naik-Naik Ke Puncak Gunung. Dan dia tersenyum senang.

Waahh. Sudah kembali lagi suaranya. Merdu kembali. Aku senang sekali. Terima kasih ya,Rif.”

“Iya, sama-sama”, jawab Arif senang karena dapat menolong temannya.

….

Di rumah, Andi bertanya pada Ayahnya. Dia penasaran mengapa Ayahnya menitipkan surat, dan bagaimana Arif bisa membetulkan gitarnya. Ayahnya menjelaskan.

Anakku. Musik itu jernih. Dan alat musik pun harus dimainkan oleh orang yang berhati jernih dan bersih. Mungkin saja gitarmu tak mau kau mainkan selama hatimu sombong. Karena itu, ketika hatimu tidak baik dan sombong, musik akan menolakmu. Oleh karena itu, kau harus membersihkan hatimu dulu dengan meminta maaf pada temanmu.”, jelas Ayahnya.

“Lalu, mengapa Arif bisa mengembalikan suara gitarku yah?, tanya Andi masih penasaran.

“Jangan pernah menilai orang dari luarnya. Arif memang tak bisa bermain gitar. Tapi kau lupa bahwa dia pandai memainkan alat musik lain, yaitu harmonika. Dia tak pernah menunjukkan keahliannya. Dia tak mau sombong. Dan yang dia lakukan adalah menyamakan suara harmonika itu dengan suara gitarmu. Yang Ayah lakukan adalah memandunya saja. Dia sudah paham betul keselarasan nada sejak dulu. Ayahnya Arif adalah teman Ayah dulu bermain musik bersama.”, jelas Ayahnya sambil mengelus kepala Andi.

Andi sekarang mengerti semuanya. Dia tidak boleh menjadi anak yang sombong. Dia juga tidak boleh menilai orang lebih rendah dari pada dirinya. Sejak saat itu, Andi dan Arif selalu bermain musik bersama dengan teman-temannya.

040

043

 

**

Ini cerpen resmi pertama saya. Dibuat di Tambora dengan tujuan mengikuti lomba di sebuah majalah anak. Karena tidak menang dan tidak ada kabar kemungkinan dimuat sampai hari ini, jadi saya muat disini.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s