Memulai – Mengakhiri


Ini adalah tulisan terakhirku saat bertugas di Tambora, Kabupaten Bima, NTB beberapa waktu yang lalu. Hmm.. Emosional,menurutku.😀

Hal yang tersulit adalah memulai. Setelah itu adalah menyelesaikan apa yang telah di mulai.

Malam ini adalah malam terakhir aku ada di dusun Tambora. Aku duduk di dalam kamarku, di atas kasur yang selama ini telah menjadi teman istirahatku setahun ini. Rasanya aku tidak ingin melewatkan malam ini. Aku ingin menghentikannya, untuk sekadar menatap lekat-lekat segala bentuknya. Merekam dengan cermat garis-garis kayunya.

Masih terdengar suara televisi dari ruang utama. Ibu dan Bapak masih menonton televisi. Mesin belum mati kali ini, entah berapa liter yang telah dimasukkan untuk nyalanya lampu malam ini. Ibu malam ini membuat sebuah acara sederana. Bakar ayam untuk yang terakhir kalinya. Ibu mengundang tetangga-tetangga dekat. Budi dan Siska juga kebetulan datang semenjak pagi tadi perpisahan.

Pagi tadi adalah acara pisah sambut di sekolah. Aku berusaha stabil, meskipun tak bisa aku ingkari hatiku bergemuruh menjalani acara batas keberadaanku di Tambora. Semua berjalan dengan baik, tanpa tangis. Bapak ku memberikan sambutannya. Sambutan yang telah dia konsep dan telah dia hapalkan sepanjang malam. Bahkan, beberapa kalimat sudah aku dengar saat dia latihan. Dan tadi, meskipun suda menghafalnya, dia tetap menyatakan menyerah lupa dan membuka kembali catatannya saat tampil. Lucu, dan sedikit malu. Tapi, itulah ayahku. Aku menghargainya.

Ketut menangis, setelah dia memberikan hadiah kenang-kenangan kepadaku. Dia memelukku dan menangis di dadaku. Gemuruh semakin kuat. Aku sayang betul anak ini. Aku merasakan apa yang dia rasakan. Kami dekat. Kami melewati ratusan hari belajar bersama, bermain bersama. Tertawa, marah, bersedih. Lelah, gembira, ataupun biasa saja. Kami melewatinya bersama. Aku mencarinya saat dia tidak ada. Dia mencariku saat aku belum ada.

Aku mulai tak bisa menahan lagi air mataku saat Ida, Ketut dan Rizal menangis saat mereka diberikan  hadiah kelulusan dan surat kelulusan dari Pak Ahmad. Aku menatap Ida. Dia basah, matanya memera sambil menatapku. Aku sungguh tak bisa menahannya lagi. Air mataku mengalir, sambil tersenyum menatapnya. Aku kalah.

Lebih lagi, saat aku diminta untuk menyampaikan kesan pesanku. Memulainya saja terlalu berat. Aku ingin berterima kasih untuk Ibu dan Bapakku. Tapi aku lemah. Aku terlalu lemah untuk hal-hal seperti ini. Aku menangis, tak sanggup meneruskan kata-kata untuk mereka. Hanya terima kasih dan maaf yang bisa aku sampaikan kepada mereka. Mereka yang telah memperhatikan aku seperti anak mereka sendiri. Aku sakit, aku lemah. Kami berbagi makanan, kami berbai kebahagiaan. Dia selalu memisahkan bagianku saat dia membeli makanan untuk anak-anakknya. Dia mengistimewakanku.

Aku hanya bisa menyampaikan harapan-harapanku terhadap orang tua murid. Aku menyampaikan bahwa anak-anak mereka adalah anak-anak yang spesial. Berbagai juara telah diraih, meskipun belum ada yang setingkat provinsi atau nasional. Tapi tetap saja menurutku. Membanggakan. Aku ingin semua orang tua merasakan kebanggaan yang sama seperti yang aku rasakan.

Aku terlalu lemah. Terlalu lemah untuk menyadari bahwa aku akan pergi meninggalkan semua ini. Bahwa masaku telah berakhir. Bahwa segala sesuatu yang sederhana ini akan selalu aku rindukan.

22 Juni 2013

Tambora.

11 thoughts on “Memulai – Mengakhiri

  1. Untuk hati yg bgitu lembut,
    Untuk air mata yang selalu menetes ketika emosi itu membuncah…

    Yaa, itulah faisal yg sy kenal🙂
    Tetap melankolis, dan sll melankolis!
    Selalu sensitip!😀

  2. Begini-begini gw punya sisi melankolis juga Sal. Gw tau gimana rasanya jadi orang cengeng. Tapi anggaplah jadi cengeng itu salah satu bentuk nikmat, yang mudah-mudahan bikin kita selalu peka dan mudah berempati.

    Eh, btw Pak Guru Faisal belum pernah nih live cerita ke saya kisahnya di Bima secara lebih komprehensif. Hehe…

  3. Itu diatas kan ada Pagea Home, About Me and My Family, Mutiara Dari Blog, Dan Cerita Pak Guru Faisal. Di ataa raa..😀

    Cerita doong, cerita.. Lewat blog deeh.. Hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s