17-an Tahun Ini


Ada yang berbeda dari Perayaan Hari Kemerdekaan NKRI pada tahun ini menurutku. Aku mencoba mengingat bagaimana bentuk perayaan yang pernah aku alami, setidaknya selama 23 tahun aku mengalami kemerdekaan. Ya, ada yang berbeda rasanya.

Sejak aku kecil, aku selalu melihat gegap gempita perayaan “17-an”. Masih terlihat di beberapa foto, aku dan kakaku sedang berkarnaval berkeliling komplek dengan menggunakan pakaian daerah. Kakaku memakai kebaya, dan aku memakai jas hitam kecilku. Terkadang, aku mengikuti karnaval dengan menggunakan sepedaku, yang telah di hias sejak paginya, atau hari sebelumnya. Membungkus semua bagian sepeda dengan kertas krep warna, melingkarinya. Tak jarang aku menyelipkan sebuah gelas minuman mineral ke bagian belakang ban sepeda, agar suaranya menjadi berisik. Sebuah kebanggaan jika menjadi perhatian saat masa kecil dahulu.  Tapi saat ini, karnaval sudah tidak ada lagi.

Bapak, Mama, Mba Farah dan Aku. :D
Bapak, Mama, Tante Nur,  Mba Farah dan Aku.😀

Dahulu juga, aku sering mengikuti kompetisi futsal tingkat RW. Kami bertanding dengan tim satu RT melawan RT yang lain. Aku ingat betul, bahkan kami sering berlatih sendiri di tanah lapang, atau di latih oleh tetangga kami, Pak Husaini dan Pak Yunus. Kami, anak-anak kecil dahulunya bangga menjadi perwakilan RT kami. Berjuang meraih hadiah yang disiapkan oleh Panitia. Aku ingat betul aku menjadi kapten saat itu. Mengatur teman-temanku. Aku juga ingat bagaimana aku mencetak gol indah dengan kaki kiri ku saat itu. Atau juga gol ‘kebetulan’ hasil dari sundulanku dari tengah lapangan.😀 . Saat ini, kompetisi futsal ini masih ada di RW-ku. Meskipun kemarin aku tidak sempat menonton, karena masih ada di daerah perantauan.

Yang paling berbeda, menurutku adalah bendera. Dulu bisa aku pastikan setiap rumah wajib memasang bendera merah putih di rumahnya. Rasanya tidak menjadi orang Indonesia jika tidak memasang bendera merah putih saat pekan 17 Agustus. Tapi saat ini, di komplekku sudah tak ada lagi bendera terpasang di setiap rumah. Hanya beberapa rumah saja yang aku lihat masih setia memasang bendera di depan rumahnya. Mungkin ini karena tidak ada himbauan dari pemerintah. Dulu yang aku dengar dari Ibuku, “Kalo gak pasang bendera, nanti didatangi rumahnya”.

Tahun kemarin, aku merasakan perayaan hari kemerdekaan di sebuah daerah di Pelosok negeri. Aku, bersama teman-teman Pengajar Muda di Kecamatan Tambora diminta sejak 3 hari sebelumnya untuk menjadi bagian dari Obade (Paduan Suara), pada upacara penaikan bendera di tingkat kecamatan. Acara itu dihadiri oleh semua Pejabat tingkat kecamatan, dan semua Pegawai di segala sektor pemerintahan. Sejak 3 hari itu, aku beberapa kali bolak-balik naik turun dari dusun ku di atas untuk latihan di dusun So’nae di tepian pantai. 1,5 jam perjalanannya. Menakjubkan rasanya  merasakan upacara di pelosok negeri seperti ini.

Meskipun jauh dari kesempurnaan upacara penaikan bendera seperti dilaksanakan oleh Pak Presiden, aku masih bisa merasakan getaran di hati saat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ya, harus aku akui, ketidaksiapan para petugas upacara membuat beberapa orang kecewa dengan pelaksanaan upacara ini. Tapi di balik sedikit kekecewaanku mengenai keberlangsungan upacara di Tanah Tambora ini, aku bersyukur masih bisa kami rasakan adanya perayaan hari kemerdekaan di daerah yang jarang dilirik pemerintah. Karena ini bukan sekedar amanat pemerintah. Ini sedikit wujud kecintaan mereka pada Negeri.

Tahun ini, aku tidak merayakannya sama sekali. Aku hanya berpartisipasiiseng dalam tweet @BEMFTUI yang mengadakan kompetisi tweet #MerahPutihAlaGue yang dihadiahi Pizza. Selebihnya, tidak ada. Aku malah memperingatinya di perjalanan menuju pernikahan sahabatku di Serang. Menikmati hari kemerdekaan dengan rasa #mupeng, karena ada sahabat yang #menikah.🙂

Hmm. Tapi aku yakin. Sama seperti sunyinya dari gegap gempita perayaan Hari kemerdekaan di Tambora, aku yakin ada semangat-semangat para pemuda yang tersembunyi di balik dadanya. Ada optimisme baru yang mereka bangun dari balik kegetiran menghadapi segala pemberitaan negatif tentang negaranya. Kenapa aku yakin? Aku melihatnya dari munculnya tokoh-tokoh pemuda yang sangat besar perannya saat ini di segala sektor.  Pemerintahan, Sektor Private ataupun Sektor ketiga. Aku sebut beberapa tokoh ; Anies Baswedan, Anies Matta, Gita Wirjawan, Rene Suhandono, Jamil Azzaini, Shofwan Albanna, dan tentunya sang penulis blog ini, Faisal Jamil😀.

Ada harapan yang terbangun dari wajah segar mereka. Ada semangat yang terbangun dari tegapnya tubuh mereka, dari lugasnya mereka berkata dan bersikap. Semoga saja!

Dirgahayu NKRI Tercinta.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s