Safari Kota


21.36 WIB

Masih di halte MUI, bersama dua ketua BEM FT dua angkatan. Kami masih menunggu teman-teman yang lain untuk datang. Beberapa sedang mengumpulkan amunisi untuk perjalanan malam ini.

Sudah setahun lebih. Hmm. Mungkin dua tahun aku terakhir ikut dalam kegiatan ini. Dulu kami menamakannya Tafakur Kota. Sebuah kegiatan, berkeliling kota Jakarta berbagi makanan dengan para pemilik jalanan. Gelandangan, pengemis, pemulung. Siapapun yang pantas di bantu yang kami temui di Jalan.

Tafakur. Dengan perjalanan ini, kami dipaksa berfikir. Merenungkan. Apa yang kami temukan dijalan dengan apa yang kami alami sehari-hari. Seringkali kebiasaan kita ; tidak menghabiskan makanan, mengeluh atas menu, menolak makan karena sedikitnya cacat dalam makanan.

Kami menemukan mereka yang sedang mencari barang berharga ditengah sampah. Biasanya, mungkin jika dirumah, waktu-waktu ini adalah waktu lelapnya di kasur empuk. Andai kau lihat senyum mereka saat menerima bungkusan itu,. Ahh..

Kami juga menemukan mereka yang juga terlelap, di atas lembaran koran pelapis dinginnya lantai. Kami menemukan mereka setia dengan gerobaknya. Tidur menjaga disampingnya, atau justru di dalamnya. Kami meletakkan makanan disampingnya tanpa membangunkan mereka. Harap-harap, mereka tersenyum ketika membuka mata menemukan makan malam, atau sarapan hari ini.šŸ™‚

23.29 WIB
Seberang PGC Cililitan

Paket Nasi bungkus dan minum yang kami bawa sudah hampir habis. Terhitung 70an paket yang kami bawa dari awal yang terkumpul dari infaq teman-teman. Infaq yang terkumpul hampir 900rb. Jazakumullah khairan katsiran.

12 orang mahasiswa Teknik plus 1 alumni adalah pasukan kami hari ini. 5 diantaranya perempuan. Dahsyat untuk ukuran anak Teknik yang selalu mayoritas laki-laki! Rasanya tidak salah jika aku merekomendasikan mahasiswi teknik untuk pendamping hidup bagi kalian yang bukan anak teknik. :p

Rasanya menyenangkan berada diantara mereka-mereka yang punya kepedulian, dan meluangkan waktu,tenaga dan pikirannya untuk orang lain. Mereka mungkin punya kesempatan malam ini untuk bersenang-senang, tapi mereka lebih memilih bahagia dengan cara ini.

00.11 WIB
Otista

Tersisa tiga bungkus. Malam sudah larut. Kami sudahi perjalanan kami di kolong jembatan Kampung Melayu. Tiga bungkus itu kami serahkan pada mereka yang menetap dibawah kolong.

Dan kami berhenti sejenak. Melepas lelah. Berbagi.

image

Posted from WordPress for Android

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s