Mendung


Langit se-dari pagi gelap. Hujan sepanjang hari tak hentinya hadir. Menari lembut, kadang bergerak cepat. Matahari pun sudah lama tak ku lihat disini.

Mendung.

Hingga ku sadari gelapnya sama seperti hatiku.

_________________________________________________________

06.25 WITA

Rasanya hujan menertawaiku yang ada sepi sendiri di ujung kamar kecil ini. Menunggu dalam sepi. Menanti matahari. Sudah beberapa hari ini aku tak bisa keluar dari kamar kecilku ini. Kamar kecil di ujung jalan Muhajirin. Hujan lebat membuat langkahku terhenti. Aku malas menemui macetnya kota Makassar, banjirnya di hampir setiap ruas jalan, serta paket lengkap sulitnya menunggu PT-PT di sepanjang ruas jalan.[1]

Banjir memang bukan menjadi hal baru bagi kami warga yang tinggal di Makassar.  Janji-janji para petinggi kota masih sama seperti dulu, terlupakan. Entah sudah berapa tokoh berjanji akan menuntaskan masalah ini. Buktinya hingga sekarang, luapan air masih ada di mana-mana . Masih melengkapi cerita  catatan pengalaman di mata kami, pendatang. Segala keindahan penjuru kota, segala keramahan menyambut tamu khas Suku Bugis, segala keunikan berbagai makanan khas, segala ke’aneh’an dialek penduduk lokal, rasanya belum lengkap tanpa bercak abu-abu tentang Makassar.

11.15 WITA

Hari ini aku menunggu dia datang. Temanku yang datang dari jauh. Dia datang untuk liburan sesaat sebelum kembali bertugas di Timur Indonesia. Aku sebenarnya masih tergolong baru mengenalnya. Aku tidak begitu paham mengenai dia. Yang aku tahu dan yang aku yakini,  dia orang baik. Sama seperti dia meyakiniku.

Jika aku ingat, hanya satu bulan umurku berkenalan dengannya. Itu juga waktu kotor, bukan benar-benar mengenalnya. Aku hanya melihat lebih tepatnya. Mengobrol saja tak pernah dengannya. Hmm. Pernah. Tapi jika ku total seluruh waktu obrolanku selama mengenalnya, tak lebih dari 15 menit.

Aku sejujurnya tidak tahu apa yang aku rasakan. Ketidak-pastian dalam hati. Sama seperti tidak pastinya kapan matahari datang menerangi kota padat ini.

15.30 WITA

“Dia segera datang”, kata Teman se-kosanku.

“Ohya, sudah dimana dia?”, tanyaku sambil berseloroh.

“Di jalan, dia naik taksi kesini”, temanku menjawab kembali.

Entah mengapa rasanya ada yang aneh.  Gelisah. Khawatir, atau mungkin deg-degan. Ah, pusing aku merasakannya. Ingin rasanya tidak mempunyai rasa gelisah seperti ini. Tidak nyaman rasanya. Aku bercerita kepada temanku mengenai yang aku rasakan.

“Itu tandanya kamu beneran suka sama dia.” Katanya sewaktu di perjalanan menuju masjid.

Hmm.. Aku tidak yakin. Dan aku tidak mau meyakinkan apa yang dia katakan. Tidak mau. Tidak mampu.

17.15 WITA

Dia datang sudah. Taksinya setelah berputar-putar mengelilingi komplek sampai juga di depan kosan. Matahari masih belum mau datang. Hujan pun masih sangat lebat.  Aku masih ada di dalam kamar. Sejak tadi, aku memang masih mendekam di dalam kamar kecil ku. Tak mampu keluar ruangan dan menyambutnya.  Aku harus menetralkan seluruh detak jantungku dulu yang sedari tadi sudah terpompa karena adrenalin yang berpacu. Sesaat, aku mencoba keluar dari kamarku. Mencoba memanggil kamar temanku – yang merupakan saudaranya – yang ada di kamar seberang. Tidak ada jawaban. Berbagai prasangka mulai memenuhi  ruang sempit tubuhku ini.

“Dia tak mau keluar. “

“Dia tak mau melihatku.”

“Tidak, Mungkin dia sekedar tidak mendengar. “

Gelisah.

18.30 WITA

Selepas shalat maghrib, aku merasa lebih tenang. Hujan masih rintik-rintik tak berhenti, hanya mulai mereda saat menjelang magrib. Seolah memberikan kesempatan para jamaah untuk shalat di maghrib. Sepanjang perjalanan menuju masjid, aku berefleksi. Hingga sampai di perjalanan pulang dari masjid, aku mengambil kesimpulan.

Semoga ini menjadi yang terbaik.

20.00 WITA

Gelap  masih terus menyelimuti kota Daeng ini. Sama seperti apa yang aku yakini.

Hujan betul-betul tak henti membasahi kota ini. Sama seperti apa yang aku rasakan.

Sepi makin menjadi-jadi disaat malam. Sama seperti apa isi di hati sekarang ini.

________________________________________________________

Lampu harapan mungkin memang harus di redupkan. Agar lebih sunyi, tanpa kebisingan di dalam hati. Temaram yang menenangkan. Seperti temaramnya gelap karena matahari enggan bersinar.  Gelap, sepi. Mungkin itu yang terbaik. Mendung sepanjang hari seperti memberikan nasihat dan isyarat, agar aku memilih mundur mematikan lampu harapan itu.


[1] PT-PT : Angkot di Makassar

Mendung

#Akhirnya jadi juga buat cerita mini. Terinspirasi dari pertemuan dengan Daeng Blogger, saya rasanya langsung pengen nulis. Dan inilah jadinya.😀

2 thoughts on “Mendung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s