Bima, Here we come..


15 Juni 2012,  21.30 WIB

MTB dan Bawean sudah berangkat terlebih dahulu menuju jalan kehormatan. Saatnya kami, pengajar muda yang masih tersisa menyusul, berjuang di tempatnya masing-masing. Menuju tempat-tempat terindah di pelosok bumi Indonesia, bertemu cita-cita bangsa yang sempat redup, datang untuk memantiknya hidup menyala kembali.

16 Juni 2012, 05.35 WIB, Terminal 3 CGK-JKT

Hari ini,  Akan kusampaikan

Selamat Kawan, Selamat Bahagia

Berjuang kini, kita mengabdi

Mengabdi pada negeri , menjadi inspirasi..

                Bergandengan tangan, menyatukan hati

                Berpeluk erat, menyatukan visi

                Langkahkan kaki, Jangan pernah berhenti

                Mari cerdaskan anak negeri..

Dengan nyanyian lagu angkatan itu, kami pun masuk ke dalam bandara. Melambaikan tangan kepada para fasilitator, tim IM, dan PM Lebak yang dengan sangat setia menemani kami. Tidak ada tangis. Kami simpan tangis kami untuk kepulangan nantinya, tangis bahagia. Kami akan menapaki keinginan kami 2-3 bulan sebelum kami memulai training. Pergi ke daerah dan berjuang memberikan yang terbaik di sana. Senyum-senyum semangat mengantarkan kami.  Senyum-senyuman harapan membersamai langkah kami.

9.10 WITA

Bandara Ngurah Rai Bali.

Yeaah. Aku sampai di pulau Dewata. Meskipun hanya beberapa puluh menit, cukuplah untuk mengatakan aku pernah ke Bali.🙂 Tak melewatkan kesempatan langka ini, aku pun sibuk memfoto dan berfoto. Bak fotografer handal, aku sibuk sendiri mengambil gambar teman-temanku. Berjalan, mengantri, duduk, makan.

Lapaar! Kami belum makan sejak kemarin malam.  Melihat sebuah resto di dalam bandara, kami pun tergiur. Tapi melihat daftar harganya, kami mundur. Haha. Akhirnya kami hanya duduk menanti pesawat ke Bima siap. Lapar tetap mengusik. Akhirnya, Teh Nani dan Dita memutuskan untuk membeli Pop Mie. Dan betul saja, sekejap setelah mereka menawarkan kami untuk mencicipi, jadilah gelas pop mie itu berputar terus di antara kami. Haha. 2 gelas pop mie berputar ke 9 orang. Entah menyesal atau tidak teh Nani dan Dita membeli pop mie itu, karena harus diputar ke 9 orang.   Gelas panas itu berputar, sampai ada panggilaan untuk masuk ke dalam Bis menuju pesawat ke Bima.

Ohya, kami bertemu pak Basyirun di Bandara Bali. Beliau adalah orang yang kami temui ketika di Istana Wakil Presiden. Ternyata sebenarnya beliau naik pesawat yang sama dengan kami dari Jakarta, tapi kami tidak sama sekali melihat beliau di bandara ataupun di pesawat. Ya, jodoh tak kemana kawan! Betul, siswa?!

Pesawat ke Bima ternyata adalah pesawat kecil. Dalam satu baris, hanya ada 4 bangku. 2 Bangku di kanan, dan 2 bangku di kiri. Tebakanku hanya ada 80 seat. Ketika take off, getarannya sangat terasa, begitu pula ketika landing. Pesawatnya adalah Wings Air, dari Lion Air. Dijadwalkan 45 Menit kami akan berada di atas pesawat kecil itu.

Bali..

 

10.40 WITA

Bandara …..

Haha. Lupa aku nama bandaranya. Yang pasti namanya berakhiran din.🙂

Kami sampai di bandara itu. Hmm. Sekelilingnya benar-benar gersang. Sabana ternyata. Di sana sudah banyak orang berdiri menanti siapa yang datang. aku pikir mereka adalah orang-orang yang menanti kami. Haha. Ternyata, tidak! Mereka tentunya sedang menanti kerabat mereka sendiri.  Berjalan lebih jauh, ada sebuah bangunan kecil. Dari kejauhan aku lihat beberapa orang berompi berwarna hitam. “Ya! Pasti itu PM2”, kataku dalam hati. Ternyata bukan hanya PM2 yang ada. Ada wakil bupati, sekda , kepala dinas, dan segala ‘attribut’ nya. Kami bersalam-salaman sejenak, berfoto, lalu pergi menuju penginapan. Belum berkenalan serius, karena terlalu lelah untuk kami PM4 pastinya.

Kami menuju penginapan dengan menggunakan Bis pemerintah sepertinya. Meskipun tidak berpendingin, tapi bis itu cukup mewah. Bis dengan sandaran kaki di setiap bangkunya. Di sepanjang perjalanan, Mas Gatot, Mas Yoga dan Mba Beryl berusaha menjadi guide. Tapi usaha hanyalah usaha meski tetap harus di appresiasi.😛 Wussh untuk mereka.

Sekitar 20 menit kami sampai di Bima Mantika Hotel. Hotel berwarna kuning menyala ini sepertinya cocok untuk kami dan PM2 yang harus tinggal cukup lama, tapi dengan budget yang terbatas J. Setelah menaruh barang-barang kami yang sangat berat itu (FYI, overload barang-barang kami hingga 2,6 juta), kami makan siang. Finnally, setelah 17 jam tidak bertemu makanan berat. Sepanjang perjalanan di Bis tadi saja aku sudah diam tak bersuara. Lapar, lelah. Makan siang kami habiskan dengan perkenalan singkat dan candaan dengan PM2. Okey, cukup unik mereka memang. Terutama Mba Ratu. Haha.

Kegiatan selanjutnya adalah hal yang sangat aku nanti. ME TIME. Aku benar-benar butuh istirahat setelah penantian dan perjalanan panjang. Istilah di PM4, Boocii. Bobo Ciang. Hehe. Perlukah aku ceritakan? Mungkin awalnya seperti ini. “Aku naik ke atas kasur, merebahkan badanku, lalu memejamkan mataku..” Haha.

Cukup lama kami mendapatkan waktu untuk Boocii. Setelah makan dan shalat dzuhur, sampai shalat maghrib. Waktu yang kelihatannya cukup untuk memuaskan hasrat tidur kami, tapi ternyata tidak J. Setelah itu kami akan bertemu dengan para sahabat dari komunitas-komunitas yang telah terhubung dengan Indonesia Mengajar di Bima. Ada KJS (Komunitas Jalan Setapak), BBL (Bima Bike Lovers), PLN-ers, BNI 46-ers, dan Pajak-ers. KJS adalah pemuda-pemudi asli Bima yang lulus dari SMAN 1 Bima, yang telah melanjutkan pendidikannya di luar kota Bima. Mereka sangat perhatian terhadap isu pendidikan dan kesehatan. Oleh karena itu, ketika bertemu dengan Indonesia Mengajar, KJS merasa punya hubungan semangat dengan sendirinya. Sementara kawan BBL, PLN, BNI, dan Pajak, mayoritas adalah pendatang, tapi mempunyai ikatan yang erat dan peduli dengan kondisi Bima.

Perkenalan, permainan, kami lakukan bersama mereka. Terlihat sekali bahwa PM2 sudah sangat akrab dengan para pemuda komunitas itu. Mereka memang cukup sering bekerja bersama dalam melakukan suatu pekerjaan. Candaan pasang-pasangan juga meramaikan suasana di tempat kami berkumpul, Yuang Cafe. Haha. Lumayan untuk bahan ejekan kami ke PM2.

Sampai larut sekali pertemuan disana. Pukul 11.30 barulah kebersamaan kami PM4 berakhir. Tapi, belum untuk PM2. PM2 masih melanjutkan bercengkrama santai dengan komunitas-komunitas itu. Wow. Selamat Melanjutkan!🙂

Salut untuk PM2, yang telah membuka komunikasi dan kerja sama dengan komunitas pemuda lokal dengan sangat baik.🙂

7 thoughts on “Bima, Here we come..

  1. hehehe, seneng ngebaca tulisan mas faisal… yang ngebaca jd seakan2 ikut kesana hehehe semangat ya….

  2. Weleh weleh.. Begini ya.. Ketika Orang Berilmu memberikan Ilmunya hanya ada 1 Kalimat “Semoga ilmu itu Berguna Untuk Orang Lain”..🙂

  3. Sangat menginspirasi sekali.. Menulislah Selagi Kita Masih Bisa Berkarya..🙂 Semangat..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s