27 May 2012


Hai, teman,

Akhirnya ada kesempatan kembali untuk meng-upload tulisanku. Sudah lama ditulis sebenarnya, tapi belum ada kesempatan untukposting di blog.

 

Assalamualaikum..

Akhirnya aku mendapatkan waktu yang tepat kembali untuk menulis. Waktu senggang (sudah larut padahal🙂 ), dan kondisi mood yang normal. Waktu senggang yang tidak larut sebenarnya ada, tetapi mood itu lah yang sulit didapatkan.

Aku review sebentar ya, apa saja yang telah aku lakukan dan aku dapatkan sejak 22 Mei. Hari selasa, aku mendapatkan giliran untuk berkunjung ke sekolah Batutus Al-Ilmy. Batutis adalah kepanjangan Baca Tulis Gratis. Wow! Itu lah kata pertama saat tahu kepanjangan sekolah itu. Bayangkan saja, sekolah gratis untuk anak-anak miskin yang di bangun oleh orang yang juga tidak kaya. Yang tergambar dalam benakku seketika adalah sejumlah harapan dari sang perintis sekolah akan pendidikan untuk anak-anak miskin. Subhanallah.

Tapi ternyata yang ingin di tampilkan Indonesia Mengajar dari sekolah itu bukanlah hal itu. Tapi bagaimana pendidikan karakter ala Batutis diterapkan kepada anak-anak muridnya. Disana mempunyai 3 prinsip 3M untuk gurunya, Tidak Menyuruh, Tidak Melarang dan Tidak M berarah. Bayangkan, seorang guru tidak boleh menyuruh apapun kepada muridnya, even just asking some help. Seorang guru tidak boleh melarang, meskipun anak tersebut lebih memilih berjalan-jalan disekitar kelasnya dibandingkan belajar. Seorang guru tidak boleh marah kepada muridnya, meski anak itu adalah anak yang sangat nakal. Sejumput pertanyaan langsung terlintas dalam hati ; Bagaimana bisa? Kenapa tidak boleh menyuruh, melarang, marah? Ketika anak sangat tidak bisa di atur, mengapa tidak boleh marah? Mengapa?

Kuncinya adalah di penggunaan bahasa. Di sekolah itu sangat ditekankan penggunaan bahasa yang baik dan benar, dan dapat mensubtitusi suruhan, larangan, bahkan marah. Hebat bukan?

–          Aku mengantuk sekali, lain waktu di teruskan kembali yaa..🙂

 

Sabtu, 26 Mei 2012, 01.05

 

 

Sabtu, 26 Mei 2012, 18.40

Hari ini, aku mau cerita mengenai kegiatan di hari Rabu. Hari rabu kemarin adalah hari untuk kami berkegiatan di luar. Outdoor Activity. Rasanya hari itu adalah hari kebebasan untuk kami. Kami seharian penuh akan menghabiskan waktu dengan permainan Paint Ball, Rakit, dan Bola-bola Kecil. Ini adalah kali pertama aku bermain Paint Ball, dan kupikir akan menjadi sangat menegangkan dan menyenangkan. Ohya, sebelumnya kami membagi kelompok dulu menjadi 8 kelompok. Aku mendapatkan kelompok yang kami namakan kelompok Oncom. J Ada aku, Billy, Adhi, Fahmi, Fard,  Vivi, Hilda, Wanya dan Retti, serta mas Hendri. Kami adalah kelompok yang pertama bermain paint ball. Permainan pertama adalah permainan berdasarkan jumlah anggota yang mati. Yang lebih banyak dapat membunuh lawannya adalah pemenangnya. Aku sangat semangat mengikutinya. Setelah membagi strategi penyerangan, aku mulai bergeriliya di semak-semak agar tidak ketahuan musuh. Mencari tempat yang aman dari tembakan dan mencari sudut tembak yang tepat adalah kuncinya. Aku sangat menikmati permainan itu. Merangkak, berguling, berlari mencari pohon, menembak, semuanya kulakukan dengan sangat serius. J Tiba-tiba, waktu diumumkan telah habis oleh wasit. Dan kelompok kami, entah bagaimana dinyatakan menang. J Masih ada beberapa peluru belum terpakai di pistolku. Kusimpan untuk permainan selanjutnya, yaitu merebut  bendera.

Kami istirahat terlebih dahulu dan sementara itu, kelompok selanjutnya bergantian bermain paint ball. Selagi istirahat, kami saling bercerita mengenai serunya permainan tadi. Haha. Ternyata hampir semua dari kelompok kami merasakan hal yang sama, yaitu pengalaman pertama bermain paint ball. (Maklumlah, kebanyakan dari kami adalah anak dari daerah :P) Setelah selesai istrirahat, kelompok kami melanjutkan permainan merebut bendera. Di permainan ini aku diberi tanggung jawab untuk berada di bagian terdepan, untuk menjaga teman perempuan (Wanya) yang akan berlari merebut bendera. Wanya dijadikan sebagai ujung tombak karena dia dianggap paling lincah diantara kami. Aku berada sekitar 3 meter di belakang Wanya, sambil bersembunyi menjaga Wanya yang akan merebut bendera. Ternyata Wanya tertembak dan dinyatakan mati oleh wasit. Oleh komandan Billy, aku panggil beberapa kali olehnya. Aku tidak menyadari bahwa aku diminta untuk mengambil bendera, karena aku pikir akan ada orang lain yang menggantikan Wanya. Setelah sadar panggilan itu adalah panggilan untuk mengambil bendera, akupun langsung berlari melompat dan merebut bendera. Aku berlari, merangkak, terjungkal lubang, dan menyeret-nyeret membawa bendera ke Markas kelompok. 3 Meter sebelum sampai di Markas, aku di berondong tembakan.🙂 Haha. Akhirnya aku merasakan juga rasanya tertembak “mati”. Tapi untungnya, sudah berjarak sangat dekat, sehingga bendera bisa diamankan oleh teman yang berada di Markas. Dan kami dinyatakan Menang. Haha. Dan kami akan bermain lagi nanti untuk menjadi yang terbaik.

Setelah bermain paint ball, kami menanjutkan bermain rakit. Kami diberikan beberapa ban, bambu panjang , bambu pendek, tali untuk naik gunung, dan tali sepatu kecil. Kami diminta merakit sendiri rakit yang akan kami gunakan. Kami akan bersaing dengan kelompok lain untuk berlomba siapa yang lebih cepat untuk mengambil bola di sebrang “pulau”. Tidak ada masalah awalnya, tapi rakit lawan kami tampaknya lebih cepat. Oleh karena itu, aku inisiatif untuk mengajak turun dan berenang mendorong rakit. Maksudnya adalah mengurangi berat rakit dan menambah daya dorong. Karena tidak ada peraturan yang melarang, kupikir itu adalah hal yang boleh-boleh saja. Dan ternyata cukup ampuh. Aku berenang mengambil bola meskipun terseret-seret duri yang ada di waduk. Dan kelompok kami, dengan sedikit “strategi” menghalangi rakit lawan yang ingin kembali ketempat asal. Haha.😀 Menang lagi!

Basah kuyup, berdarah darah. Tidak parah tentunya, hanya sekedar “beset-beset” duri di sepanjang tangan. Dan ada anak baik yang membantu mengobatiku.🙂

Kami melanjutkan permainan bola-bola warna. Lagi-lagi, kelompok kami menang dengan sedikit “strategi” lebih. Kami diminta melakukan “jugling” ke semua anggota kelompok. Strateginya adalah mengecoh konsentrasi lawan dengan berteriak ketika mengoper bola tersebut. Haha. Menang lagi dengan sempurna, dan mungkin sedikit licik.

Setelah makan siang dan shalat, kami melanjutkan permainanan paint ball. Kelompok kami melawan kelompok Boink-Boink, kelompok pemenang dari “batch” lain. Kami kelompok oncom benar-benar tidak ada strategi baru dalam bermain, sementara kelompok lawan benar-benar mempersiapkannya. Kami kebetulan mendapatkan giliran sebagai teroris, yang menggunakan rompi berwarna hitam bergaris orange terang. Ini sebenarnya adalah rompi ‘kekalahan’, karena sangat mudah terlihat oleh lawan. Tak peduli lah, yang penting bermain sepuasnya. Kami pun bermain. Aku sempat menembak ‘mati’ 2 orang musuh. Tapi setelah itu aku terkena “freeze” (mati dalam jarak yang sangat dekat). Setelah itu permainan sangatlah panas. Kelompok lawan kami anggap tidak jujur karena banyak yang sudah tertembak tetapi tidak mau mengaku tertembak. Akibatnya teriakan-teriakan di luar permainan banyak terdengar keras. Puncaknya adalah saat seseorang lawan merasa terganggu karena tertembak di kepala (helm) meskipun mengaku telah melakukan “freeze”. Dia berteriak tidak terima. Dan setelah itu, suasana menjadi sangat panas. Kelompok Oncom merasa tidak ‘fun’ lagi dalam bermain, dan menyudahi permainan. Haha, seru sekali jika kau melihatnya.

Di sesi outdoor activity ini banyak hal yang bisa aku dapat. Antara lain adalah kerja sama, kepemimpinan, mengenal karakter teman yang sesungguhnya, totalitas dalam bekerja, fokus pada tujuan, mempersiapkan strategi, dan hal lainnya. Tapi yang paling aku suka adalah ketika seseorang menjelaskan totalitas bekerja tersebut. Bagaimana kita dalam pelatihan ini bisa totalitas memberikan yang terbaik, tidak hanya dalam outdoor activity. Disini aku tersadar bahwa keinginan memberikan yang terbaik adalah bukti ketulusan dalam melakukan pekerjaan. Bukti, apakah niat kami tulus atau tidak dalam mendaftar mengikuti IM. Apakah hanya ingin senang-senang, ingin jalan-jalan, ingin terkenal, ataukah ingin benar-benar mengabdi.🙂

Semoga semakin banyak refleksi yang bisa kami dapat disini. Waktunya tinggal 1 minggu lagi sebelum pengiriman ke tempat yang telah ditentukan. Semangat, lakukan yang terbaik, faisal!

 

6 thoughts on “27 May 2012

  1. Hm, keinginan memberi yang terbaik sebagai bukti ketulusan ya?
    Walah, jadi inget skripsi. Baiklah, akan dicatat baik-baik, kak.

    By the way, aku cengar cengir lho baca ini, abis hebohnya nyampe sini rasanya. Hehe. Untung nggak sampe ikut ngos-ngosan ya.😀

  2. Baru selesai baca ini sampai habis. Dulu pernah baca tapi awalnya doang trus ke-skip apa gitu. Ini seru banget lho Faisal, kebayang kalo lo cerita langsung. Pasti ekspresi “mata terbuka lebar” lo akan bikin gw hanyut dalam cerita.

  3. Kadang banyak orang ketika cerita, hanya menarik ketika ditulis. Ada yang berlawanan, dan ada juga yang menarik ketika diceritakan langsung, tapi saat ditulis, gak menarik.

    Tergantung kecerdasan. Lw termasuk yang mana ra? Kalo gw sepertinya menceritakan lewat menulis, tapi kalo langsung gw lebih suka jadi pendengar. Tapi gw latih supaya semuanya menarik. Kan gw pengen terkenal. Hehe.

  4. Kayaknya gw tergantung topiknya Sal, hehe.. Ciyee Faisal yg pengen terkenal. Eh tapi iya juga sih, lo kalo ngomong langsung gw perhatiin suka ga semuanya keluar. Gw selalu ga puas kalo pengen sharing sm lo. Gw pikir lo sok sok misterius, eh ternyata emang lebih bagus kalo nulis yak? hehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s