Sejuta Ketika


Ternyata benar-benar harus aku akui.

Aku lelaki melankolis.😀

 

Hari ini, ada sebuah acara. Acara pertemuan biasa sebenarnya. Tetapi, karena kita –terutama aku– sudah sangat jarang bertemu, terasa menyenangkan.

 

Dan tetap saja, sedikit sedih ketika harus selesai.🙂

Tanpa bisa terucap.

 

Dan saat ini, kenangan-kenangan itu berputar-putar kembali di ingatan.

Ketika dua orang sahabat (I n R) datang ke kantin teknik untuk  ‘membujuk’ aku membantu.

Ketika masa-masa gamang karena memang merasa tidak pantas , bahkah untuk sekedar bekerja sama.

Ketika hari pertama rapat, aku hanya diam melihat wajah-wajah  yang selama ini menjadi ‘pahlawan’ kampus. Hanya berkenalan dan memperhatikan.

Ketika mereka rapat di rumahku, dan tetap saja aku hanya diam.

Ketika awal pembahasan ‘sekolah’ itu, dan aku tetap hanya banyak diam.

Ketika banyak-nya apel, rapat, dan aku tetap merasa tak punya banyak ilmu untuk di bagikan.

Hingga ketika subuh hari saat itu, saat puncaknya pun telah sampai

Tangis itu menggambarkan harapan yang membuncah, di iringi sahut-sahutan azan berkumandang.

 

Dan ketika bagian berikutnya di lanjutkan, dengan segala keterbatasan dari aku.

Ketika segalanya harus di koordinasikan lewat telepon.

Dan ribuan ketika lainnya.

 

Dan saat kita berusaha mengingat-ingatnya,

dengan segala tawa, mentertawakan kenangan itu.

Semakin terasa, bahwa ternyata aku memang mudah hanyut dalam perasaan.

 

Tapi aku pun tak terlalu peduli.

Sifat ini membuatku bisa menghargai pertemuan, detik-detik kebersamaan, hingga perpisahannya.

Haruslah setiap pertemanan, meninggalkan kesan baik.

Supaya ada bekas di hati.

 

 

Terima Kasih, teman-teman Sospolicious.

Terima kasih, teman-teman CK.

Sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi bagian dari kalian.

I will absolutely miss you, all.

 

 

– Home –

08042012- 00.14 AM.

2 thoughts on “Sejuta Ketika

  1. Akhirnya, setelah sekian banyak post tentang CK, disebut juga merknya di sini.😀

    Duh, yang melankolis. *ckduabelaskali

    Ternyata harus bener-bener aku akui, kakak memang sangat melankolis. Saking melankolisnya, kakak selalu berpikir tentang betapa melankolisnya diri kakak. Hehe.

    Tidak pernah ada yang salah dengan melankolis itu, kak. Pernah nggak kakak bayangin kalo dunia ini hanya diisi satu karakter?

    Oh my, betapa bising dan berantakannya dunia kalo isinya sanguinis semua, betapa kaku dan tegangnya kalo yang ada koleris semua, dan betapa damai (read: ‘stuck’) dan membosankannya kalo yang bertahan plegmatis semua. Ya kan?

    Bagaimanapun, melankolisnya kakak berjasa besar dalam memberi warna di sini. Mengimbangi yang cerewet dengan sikap tenang, mengontrol yang berantakan dengan pola pikir sistematis, memberi arahan pada yang bingung dengan bahasa yang memotivasi, dan tentu, memunculkan kepekaan pada yang ‘batu’ dengan ekspresi emosi yang wajar tapi menyadarkan.

    Pada akhirnya, orang bilang, jangan bersedih karena sesuatu yang indah telah berlalu, tapi tersenyumlah karena sesuatu itu pernah terjadi.

    Terimakasih juga atas kerjasama dan bimbingannya selama ini, kak. Semoga keberkahan selalu melingkupi keluarga besar Sospolicious dan CK12. Aamiin.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s