Perang Pertama


Hati-hati dengan hatimu.

Keringat belum menetes, peluh pun belum bercucuran. Apalagi darah.

Tas perang belum di jinjing, sepatu boot pun belum terpakai. Apalagi senapan.

 

Hati-hati dengan hatimu.

Ketika bendera yang terkibar masih bendera putih,

Tapi kau sudah mendengar seruan penghormatan.

 

Hati-hati dengan hatimu.

Tapi mungkin itu perang pertama.

Dan itu mungkin perang yang akan terus terasa lelahnya.

Membombardir tubuhmu lewat sejuta jalan kelemahanmu.

Perang yang bisa membunuhmu , mati sampai ke hati.

 

 

Kencangkan ikat pinggangmu, angkat senapanmu.

Turunlah ke medan perang yang sesungguhnya.

Nikmatilah lelahnya. Nikmati sakitnya.

Kau akan mendapat surgamu sendiri, dengan mata kepalamu.

Tak perlu menunggu mati.

 

Tapi hati-hati dengan hatimu.

Jaga ia semanis senyuman mereka.

Jaga ia tetap tersenyum seceria mereka.

Tak perlu kau hiraukan rangkaian bunga yang sampai padamu.

Surgamu yang sejati, ada disana.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s