Tempat Baru


Dear, Adik..

Sudah lama aku tak menulis lagi, bercerita ini itu padamu. Kamu yang tak ada.

Belum genap satu pekan aku ada di kota ini. Ini pengalaman pertamaku hidup sendiri untuk waktu yang lama di kota lain. Sebelumnya, mungkin paling lama hanya 10 hari. Itupun ketika acara-acara conference-conference  yang aku ikuti – yang notabene akomodasi dan konsumsinya sudah di jamin penyelenggara, mewah. Saat ini aku merasakan yang namanya bertahan hidup sendirian.

Ya, tentunya ini pun tidak sesulit pengalaman teman-teman yang lain, yang sudah hidup sendiri sejak kuliah, bahkan sejak SMA. Mereka yang merasakan tidak punya uang ketika hidup jauh dari orang tua, berfikir keras untuk bertahan hidup, memanajemen ‘kehidupan’ secermat mungkin agar tetap bisa bertahan. Sementara aku, saat ini sudah berpenghasilan. Mungkin tak begitu banyak, tapi bisa cukup memenuhi kebutuhan hidupku.  Alhamdulillah.

Terlambat mungkin kurasakan latihan ini. Tapi aku tak peduli. Toh, Allah juga yang merencanakan aku hidup selama 21 tahun dekat bersama orang-tuaku.  Disaat itu bisa kurasakan pelajaran yang lain ; merasakan bentuk cinta keluarga, sejak dari bayi sampai dewasa, dengan segala perubahan bentuk cintanya.

Yang kucari saat ini adalah pengalaman baru ada di lingkungan asing. Menjelajahi tempat-tempat terjauh, mencoba mencari celah untuk aktualisasi diri.  Berjalan tak kenal ujung, hanya mengikuti kata hati . Menutup mata dari hiruk pikuk kehidupan, mencoba menyelami segala kuasa sang Maha Pencipta. Aku ingin menikmati diri menjadi orang asing, yang tak takut menghadapi yang terjadi di kemudiannya. Mencari senyuman tulus, keramahan lokal, tawa-tawa ringan dan renyah , menghirup udara segar persahabatan.

Aku yakin,dik. Kenikmatan menjadi diriku bukan saat aku ada di tingkat tertinggi kekayaan ataupun jabatan. Bukan ketersediaan segala sesuatu. Tetapi sejauh mana aku bisa menciptakan senyuman, menciptakan kebahagiaan, menjalin persahabatan. Membuat yang jatuh menjadi bangkit, yang sakit menjadi sembuh, yang lapar menjadi kenyang, yang miskin menjadi kaya.  Hanya itu.

Semoga saja tempat asing ini, dan tempat asing lain nantinya, menjadi puzzle-puzzle pematri keteguhan, pemantik bara semangat yang tak pernah padam akan semua impian itu.

2 thoughts on “Tempat Baru

  1. tersebutlah seorang senior yang jarang sekali pulang kampung.
    ketika ditanya, “emang nggak kangen orang tua, kak?”

    dia hanya menjawab, “cobalah sekali-sekali tidak pulang dalam waktu lama, dan kau akan merasakan cinta yang bertambah-tambah pada ayah dan ibumu.”

    saat itu, terlepas dari bahwa alasan utamanya adalah keuangan, mau tidak mau aku berpikir juga.

    dan akhirnya aku membenarkan kata-katanya saat pindah ke asrama (yang bahkan hanya berjarak tempuh 2 jam dari rumah! hehe. :D).

    tapi setelah diperdalam, ternyata hal itu tidak hanya berlangsung satu arah. percaya atau tidak, cinta orang tua pada kita yang jauh juga semakin kuat.

    aku ingat, waktu kakakku kuliah di luar kota, selalu dia diperlakukan spesial. selalu dikhawatirkan kondisinya ketika jauh, dibuatkan masakan spesial ketika pulang, dibekali segala ketika harus berangkat kembali.

    aku tidak pernah mengerti itu (iri dan kesal tepatnya, :D) sebelum akhirnya ganti aku yang menerima perlakuan yang sama.

    benar kata orang, “rindu tidak akan ada jika jarak tidak pernah tercipta”.

    selamat berjuang sebagai perantau, kak. jangan lupa sering-sering telepon keluarga.😀

    yakinlah, ketika mereka tidak menghubungi lebih dulu, bukan berarti mereka tidak rindu, mereka hanya khawatir aktivitas kita terganggu.

    jadi, kita yang harus lebih peka.🙂

    *btw, aku sok tua ya? sudahlah ya, dalam hal merantau, aku kan lebih senior dari kakak. haha. #mintadijitaksamayanglebihsenior😀

  2. hehe.. iya.. ada benarnya juga.. mungkin itu yang dirasakan orang yang tidak bertemu keluarganya dalam waktu yang lama. Bertambah cintanya. Tapi percayalah, dengan ada di sampingnya dalam waktu yang lama (bahkan sangat lama ~21 tahun), kau tahu bentuk cinta mereka saat kau masih bayi (#lupa kali yaa kalo bayi), balita, remaja awal, remaja akhir, dan awal kedewasaan..😀

    tapi aku sepakat, fin..
    “rindu tidak akan ada jika jarak tidak pernah tercipta”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s