Nikmat Yang Terlupa


Akhir-akhir ini, entah apa yang merasuki diriku. Entah apa yang sebenarnya mempengaruhiku, sehingga aku banyak mengeluh, banyak mencaci diriku sendiri. Hingga banyak kezaliman yang ku lakukan, dan aku menganggap itu pelampiasannya. Gila!

Tak lagi ada kelapangan hati kurasa. Jiwa penat, hati sesak. Mungkin itu yang hilang, sehingga linglung menjalani aktifitas. Allah sedang mengujiku, tapi ku sepertinya tak bisa melewatinya dengan baik.

Kekurangan selalu kurasa. Ku caci yang ada. Ku fikirkan yang tak ada. Merana. Begitu ternyata rasanya. Tak sadar aku mempelajarinya. Pelajaran kehidupan ke sekian. Semakin merana hidupnya karenanya. 

Percayalah, memang bukan mudah menjalaninya. Mengalaminya. Kau punya seribu macam teori. Kau punya seribu alasan untuk berkata , “seharusnya begini”.  Tunggu sampai kau ada di posisi itu, mungkin kau akan merasakannya. Atau mungkin kau bisa melewatinya dengan baik.

Entah kemana, hilangnya rasa syukur itu. Syukur menjadi sekedar pemanis bibir, hiasan dalam otak dan pemahaman. Dia tak lagi ada di hati. Entah kemana, entah kenapa.  Tapi kuyakin karena iman.

Begitulah, ternyata adanya. Ketika kau tidak bersyukur akan sesuatu, kehidupanmu akan semakin sempit. Segalanya menjadi begitu rumit. Mungkin itu, sebagian dari Azab Allah yang langsung diberikan.

Tapi ketika syukur benar-benar terpatri dalam hati, bersemayam dalam jiwa, tak ada yang sempit. Tak ada yang rumit. Semua terasa begitu sederhana, semua terasa menyenangkan. Mungkin itu nikmat yang ditambahkan oleh Allah, yang pentingnya lebih penting dari nikmat yang kau syukuri. Nikmat ini yang kau luput menyadarinya. Nikmat itu ; nikmat kelapangan hati, nikmatnya bersyukur.

Ya Allah, tetapkan hati ini agar selalu di jalanMu.

Tetapkan ia untuk selalu bersyukur padaMu. Lembutkan ia kembali, ya Allah.

…Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya. (Penggalan Hadist Arbain ke 24, HR.Muslim)

*terus bertafakur, dik.*

4 thoughts on “Nikmat Yang Terlupa

  1. Kata hadist, orang mukmin itu beruntung. Ketika mendapat kebaikan ia bersyukur, dan ketika mendapat keburukan ia bersabar.

    Tapi percaya atau tidak, ketika kita memahami setiap hikmah dari kejadian yang kita alami, niscaya kita akan senantiasa bersyukur hingga sabar itu hampir-hampir tidak diperlukan lagi.

    Pada akhirnya, aku memaknainya seperti ini: jika selama ini orang menganggap bahwa dalam hidup kita ada hal baik dan hal buruk, aku justru berpikir yang ada adalah hal “baik” dan hal yang “terlihat buruk”. Karena entah mengapa aku percaya, segala sesuatu yang Allah tetapkan dalam hidup kita itu baik.

    Berapa sering kita mendengar cerita tentang seseorang yang bersungut ketika ketinggalan pesawat dan ternyata pesawat yang harusnya dia tumpangi mengalami kecelakaan kemudian?

    Penyebab utama dari ‘bersungut’nya kita, atau dari ‘tidak bersyukur’nya kita sebenarnya hanya satu, yaitu ketidakpahaman kita akan makna dan pelajaran yang Allah sisipkan dibalik kejadian itu.

    Karenanya, setiap kali ada hal yang tidak aku inginkan terjadi, aku selalu minta sama Allah untuk ditunjukkan hikmahnya, agar hati aku tidak terlalu sakit lagi. Sebab hikmah itu selalu dan sudah pasti ada, hanya terkadang kita tidak menyadarinya. Dan untuk bisa menyadarinya, ternyata kita tetap perlu bantuan Allah, di samping tentu saja tetap menggunakan akal kita untuk berpikir dan mencari.

  2. Sangat sepakat sama fina, tapi terkadang pemikiran itu bisa diterima dari hati yang sedang terkondisikan dengan baik.

    Kalau menurut aku, ini msalahnya dari dalam sal. Evaluasi lagi ibadah kita selama ini. Biasanya segala “kekacauan sistem” yang terjadi, mungkin karena “mesin” nya juga lagi kurang bener. Pebanyak ibadah (bukan ngajarin lho ini),bisa juga “wisata sosial”, bergaul dengan orang2 yang dulu “mengkondisikan hati” kita untuk selalu bersyukur.
    jangan biarkan diri terlalu lama terpapar oleh “polutan” yang bikin hati jadi tercemar. Sering2 “refreshing”.

    Positivnya, ketika kita sadar kita sedang tidak bersyukur, itu satu poin bagus sal, karena banyak orang yang terlena dengan ketidak bersyukurannya sehingga sulit untuk kembali. Ibarat kata, kita tau kalo lagi sakit, jadinya ada inisiatif untuk berobat. Lebih repot kan kalu kita ngerasa sehat2 aja, padahal lagi sakit, nyadar2 eh,..udah akut. Betul?

    Sesuai dengan jargon blog ini ” semangat untuk jadi lebih baik” !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s