Selamat Tinggal Sahabat
Malam ini adalah malam sesaat sebelum aku meninggalkan rumah ini, kota ini, dan kehidupan fase ini.
Karena waktunya telah tiba.
Kereta kehidupan selanjutnya akan segera berangkat.
Berangkat membuka jalan-jalan baru dalam kehidupan aku ini.
Sahabat..
Melalui tulisan ini, aku mencoba menyampaikan salam terbaik ku.
Yang mungkin tak bisa bertemu untuk menyampaikannya secara langsung.
Memeluk Erat.
Bukan salam perpisahan, tentunya, sahabat.
Karena aku sendiri membenci perpisahan.
Tapi salam ini adalah salam doa.
Semoga dirimu disana, selalu diberikan yang terbaik dari yang Maha Baik.
Semoga kebaikan selalu menyelimutimu, sehingga hal yang baik bisa kau lakukan.
Setahun lebih nantinya bukan waktu yang panjang.
Bukan waktu yang singkat pula.
Semoga, dengan waktu kita ini,
Banyak yang bisa kita lakukan.
Semoga kita bisa bertemu kembali nanti.
Dan pasti ku nantikan cerita-ceritamu.
Kegiatan-kegiatanmu, karya-karyamu, sukses-sukses dirimu.
Dan semuanya tentang dirimu.
Tawa-tawa bersamamu pasti akan ku rindukan.
Dan juga, aku ingin meminta maaf setulus-tulusnya dari mu, sahabat.
Tentunya ada kesalahan yang pernah ku perbuat, dan mungkin belum mendapatkan maaf dari mu.
Aku mohon maaf.
Karena tak ada yang tahu, mungkin ini menjadi jalan meminta maafku yang terakhir.
Dan tentunya, aku memohon doa darimu.
Doa semoga kesehatan dan kebaikan selalu melingkupi diriku dan keluargaku disini.
Doa semoga keikhlasan menjadi teman dalam perjalanan ini.
Tenang saja, aku berdoa semoga Allah memberikanmu hal-hal ini juga ketika kau mendoakanku.
Selamat tinggal, Sahabat.
Sampai jumpa lagi di kehidupan berikutnya, yang lebih baik!
Sahabatmu,
Faisal Jamil.
Nb:
Aku suka lagu ini.
Tepat menemani salam perpisahanku ini.
Selamat Tinggal Sahabat, dari Izzatul Islam
Selamat tinggal sahabatku
Ku kan pergi berjuang
Menegakkan cahaya Islam
Jauh di negeri SeberangSelamat tinggal sahabatku
Ikhlaskanlah diriku
iringkanlah doa restumu
Alloh bersama slaluKuberjanji dalam hati
Untuk segera kembali
Menjayakan negeri ini
Dengan ridho IlahiSelamat tinggal sahabatku
Ku kan pergi berjuang
Menegakkan cahaya Islam
Jauh di negeri SeberangSelamat tinggal sahabatku
Ikhlaskanlah diriku
iringkanlah doa restumu
Alloh bersama slaluKalaupun tak lagi jumpa
Usahlah kau berduka
Semoga tunai cita – cita
Raih gelar syuhadaSelamat tinggal sahabatku
Selamat tinggal sahabatku
Selamat tinggal sahabatku
Selamat tinggal sahabatku
Selamat tinggal sahabatku
Selamat tinggal sahabatku

Ini Video-nya.
Bebas Merdeka
Saya sangat suka lagu ini. Lagu ini dikenalkan di telinga saya oleh rekan-rekan pengamen. Hampir setiap angkutan umum yang saya naiki, saat di Bandung dan Jakarta, terdapat pengamen yang salah satunya pasti menyanyikan lagu ini.
Lagu ini terasa sangat dalam maknanya ketika mereka menyanyikan. Seperti bernyanyi dari dalam hati.
Banyak yang bertanya
aku ini mau jadi apa?
nggak kuliah juga nggak kerja
tapi kujawab inilah aku apa adanyatapi jangan kira
aku gak berbuat apa-apa
aku berkarya dengan yang ku bisa
dan yang penting aku bahagiayang penting aku gak nipu
gak bikin susah kalian
yang penting gak terlibat
3, 7, 8 ….(*)
kujalani apa adanya
aku bahagia
bebas lepas tanpa beban
aku merdekahuoo.. yo.. yo.. yo..
na..na..na..na…yang penting aku gak nipu
gak bikin susah kalian
yang penting gak terlibat
3, 7, 8 ….back to (*)
yooo … bebas merdeka..
Traktir dan ‘Todong’ Ilmu
Hari ini aku ‘main’ ke Kampus.
Sebenarnya hanya ‘iseng’ saja, karena malam ini aku janji untuk bertemu keluarga Laboratorium Telekomunikasi Teknik Elektro UI. Untuk sekedar kumpul-kumpul, dan dengan traktiran tentunya dari ku.
Tradisi ‘traktiran’ ini sebenarnya bukan kewajiban, tetapi lebih ke penjagaan tradisi Lab. Aku, saat masih menjadi Asisten Lab, tidak pernah absen ketika ada Asisten Alumni yang mengajak makan (traktir). Biasanya alumni akan traktir ketika sudah mendapatkan kerja. Bahagia rasanya ketika kita (sebagai asisten – mahasiswa- ) di ajak berkumpul bersama alumni. Terasa punya keluarga, dan tentunya, Kenyang!!
Oke, dan setelah Makan-makan, Aku pun di ‘todong’ untuk berbagi ilmu di dunia Telekomunikasi. (oh my..)
Sebenarnya, tidak ada masalah. Ya, semampunya saja.
Tapi, setelah sampai di rumah, baru ingat kalau besok sudah ada rencana pribadi untuk menghadiri sebagai peserta sebuah acara kepemimpinan di Kampus. Pembicaranya terkenal, Billy Boen (Pencetus Young on Top). Saat membaca spanduknya, seketika itu pula aku tertarik. Sampai merelakan memutar motor untuk melihat lebih detail informasi acaranya dan tata cara pendaftarannya. Sangat tertarik!
Dilema pun di mulai..
Mungkin bisa saja menjelaskan ke ‘adik-adik ‘ Lab Telekomunikasi, bahwa aku ternyata sudah punya agenda pribadi yang lupa kusampaikan saat tadi diminta. Dengan sedikit alasan logis (dan jujur tentunya), pasti mereka bisa menerima dengan baik. Tetapi, saat kufikir kembali, di acara Sharing Ilmu di Laboratorium, aku berperan sebagai pembicara – penyalur ilmu. Sementara di seminar itu, aku hanya pendengar. Rasanya, ada nilai kebermanfaatan yang bisa kuberikan sharing ilmu nanti, meskipun acara Kepemimpinan itu pun tidak rugi sama sekali.
Teringat pesan Pak Anies Baswedan di Indonesia Mengajar ; Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik.
Kupikir, mungkin ada nilai kewajiban yang ada di pundakku untuk sharing tentang sedikit ilmu yang kudapat dari Kantor. Karena sedikit banyak aku telah terdidik, maka rasanya tidak ada alasan untuk tidak mendidik apa yang telah aku dapatkan.
Semoga di mudahkan, dan berkah!
Introducing Indonesia Mengajar
Video ini adalah salah satu video yang membuat saya memutuskan untuk bergerak, turun tangan.
Berhenti menyalahkan kegelapan, nyalakan lilin. Lakukan Sesuatu..
Maaf, Teman.
Untuk sahabat-sahabatku.
Mohon maaf atas kesalahan yang aku perbuat. Mungkin seharusnya malam tadi menjadi malam yang baik, karena mungkin itu terakhir kalinya kita bisa ‘main’ bersama. Tapi,sudahlah.
Mungkin setelah ini, kalian lebih mengenal sifat ku.
Tidak suka akan aku ungkapkan tidak suka, meskipun kalian akan lebih sering melihatnya dari perubahan sikapku.
Sungguh, diam lebih menjadi pilihanku ketika kesal,marah dalam hati.
Tetapi jika emosi sudah tak bisa di bendung, marah pun akan kalian lihat.
Tapi setelah mengeluarkan marah sesaat itu, percayalah, semua sudah hilang.
Tak ada lagi rasa marah, selanjutnya yang ada adalah penyesalan di diriku.
Penyesalan kenapa diam tidak bisa memendam marahku lagi. Penyesalan terhadap batas emosiku.
Semoga kita bisa bertemu kembali di lain waktu.
I really love you, friends. Really.
15 April 2012
2.36
Sejuta Ketika
Ternyata benar-benar harus aku akui.
Aku lelaki melankolis.
Hari ini, ada sebuah acara. Acara pertemuan biasa sebenarnya. Tetapi, karena kita –terutama aku– sudah sangat jarang bertemu, terasa menyenangkan.
Dan tetap saja, sedikit sedih ketika harus selesai.
Tanpa bisa terucap.
Dan saat ini, kenangan-kenangan itu berputar-putar kembali di ingatan.
Ketika dua orang sahabat (I n R) datang ke kantin teknik untuk ‘membujuk’ aku membantu.
Ketika masa-masa gamang karena memang merasa tidak pantas , bahkah untuk sekedar bekerja sama.
Ketika hari pertama rapat, aku hanya diam melihat wajah-wajah yang selama ini menjadi ‘pahlawan’ kampus. Hanya berkenalan dan memperhatikan.
Ketika mereka rapat di rumahku, dan tetap saja aku hanya diam.
Ketika awal pembahasan ‘sekolah’ itu, dan aku tetap hanya banyak diam.
Ketika banyak-nya apel, rapat, dan aku tetap merasa tak punya banyak ilmu untuk di bagikan.
Hingga ketika subuh hari saat itu, saat puncaknya pun telah sampai
Tangis itu menggambarkan harapan yang membuncah, di iringi sahut-sahutan azan berkumandang.
Dan ketika bagian berikutnya di lanjutkan, dengan segala keterbatasan dari aku.
Ketika segalanya harus di koordinasikan lewat telepon.
Dan ribuan ketika lainnya.
Dan saat kita berusaha mengingat-ingatnya,
dengan segala tawa, mentertawakan kenangan itu.
Semakin terasa, bahwa ternyata aku memang mudah hanyut dalam perasaan.
Tapi aku pun tak terlalu peduli.
Sifat ini membuatku bisa menghargai pertemuan, detik-detik kebersamaan, hingga perpisahannya.
Haruslah setiap pertemanan, meninggalkan kesan baik.
Supaya ada bekas di hati.
Terima Kasih, teman-teman Sospolicious.
Terima kasih, teman-teman CK.
Sudah memberikan aku kesempatan untuk menjadi bagian dari kalian.
I will absolutely miss you, all.
- Home -
08042012- 00.14 AM.
Hari Terakhir
Sendu.
Selalu seperti ini rasanya.
Ketika tiba masanya ada di hari terakhir berada di suatu tempat asing bagi kita.
Semua memori dari hari pertama, sampai hari terakhir rasanya berputar di ingatan.
Cepat.
Sunnatullahnya memang seperti itu.
Ada pertemuan, ada perpisahan.
Ada saatnya datang, berarti ada saatnya untuk pergi.
Tapi tetap saja, sendu.
Sejuta pengalaman baru yang didapat.
Sekian banyak sahabat baru yang dikenal.
Sekian banyak karakter berbeda di temui.
Sejuta rasa gembira, sedih, senang, kesal yang dirasa.
Mungkin itu yang mahal dari sebuah perantauan.
Pelajaran tentang hidup yang bisa di dapatkan.
Dan mungkin karena itu, Imam Syafii menyarankan kita untuk merantau.
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tidak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa
Jika didalam hutan.
Semoga bisa terus mengambil pelajaran dari Indahnya berada di “negeri orang”.

Hari Terakhir ,
Jl.BKR No.192, Bandung, Jawa Barat.
04 April 2012. 07.28
Perang Pertama
Hati-hati dengan hatimu.
Keringat belum menetes, peluh pun belum bercucuran. Apalagi darah.
Tas perang belum di jinjing, sepatu boot pun belum terpakai. Apalagi senapan.
Hati-hati dengan hatimu.
Ketika bendera yang terkibar masih bendera putih,
Tapi kau sudah mendengar seruan penghormatan.
Hati-hati dengan hatimu.
Tapi mungkin itu perang pertama.
Dan itu mungkin perang yang akan terus terasa lelahnya.
Membombardir tubuhmu lewat sejuta jalan kelemahanmu.
Perang yang bisa membunuhmu , mati sampai ke hati.
-
Kencangkan ikat pinggangmu, angkat senapanmu.
Turunlah ke medan perang yang sesungguhnya.
Nikmatilah lelahnya. Nikmati sakitnya.
Kau akan mendapat surgamu sendiri, dengan mata kepalamu.
Tak perlu menunggu mati.
Tapi hati-hati dengan hatimu.
Jaga ia semanis senyuman mereka.
Jaga ia tetap tersenyum seceria mereka.
Tak perlu kau hiraukan rangkaian bunga yang sampai padamu.
Surgamu yang sejati, ada disana.

Negeri ini
Negeri ini harus besar di tangan rakyatnya, yang pernah merasa lapar ketika tak ada makanan. Negeri ini harus besar di tangan pemuda yang dulu pernah merasakan kearifan budaya lokal Indonesia, karena itulah yang akan menjaganya untuk selalu arif. Negeri ini harus bangkit dari segala keterpurukan, bangkit di tangan orang-orang dari daerah yang pernah terpuruk. Karena hal itulah yang akan membuat mereka menghargai jerih payah kerja keras.
Negeri ini butuh pemuda-pemuda yang ikhlas membangun bangsa. Negeri ini tak butuh pemuda-pemuda pencinta dunia, pencari ketamakan harta, penikmat kegemerlapan dunia, tapi menjatuhkan bangsanya. Negeri ini tak butuh orang dengan titel tinggi, tapi moral rendah. Negeri ini tak butuh itu semua.
Negeri ini butuh kita kawan, negeri ini butuh kau dan aku yang menggebu semangatnya. Yang ikhlas perjuangannya. Yang tak takut lapar, tapi tak berdiam diri tak berusaha. Yang tak takut dicaci, tapi selalu menjaga harga diri. Negeri ini butuh kita kawan, para pemuda terbaik bangsa.
Biarkan tangis ini menjadi saksi bisu proses ini. Apapun hasilnya nanti. Puas sudah aku menyampaikan ini.
Jika kau mau semangat ini terus menular kawan, mari bersamaku.
Sedikit tentang IM ;)
IM ??
Apa itu IM?
Ikhwanul Muslimin kah?
Indonesia Mengajaar kah?
Islamic Movement kah?
Ingin Menikah kah? #eh?
Terserah.
Yang terpenting mereka semua di singkat menjadi IM. Haha.
Tapi ada satu diantara mereka yang benar-benar menjadi topik bahasan kali ini. Yang mana? Ikuti saja sampai habis.
Aneh, dan mungkin tak masuk akal.
Itulah mungkin yang kurasakan mengenai ini. Tetapi lagi-lagi ini menjadi bukti kebesaran Allah akan takdirnya. Dan aku sekali lagi menjadi saksi akan kebesarannya. Allahu Akbar.
Seperti dulu, ketika masa-masa mengerjakan skripsi. (Ada disini). Ketika pertolongan Allah yang datang dari arah yang tak disangka-sangka, dan adanya di ujung masa deadline. Ketika itulah, kuasa berbicara, dan takdir membukakan catatannya.
Seperti itulah pula hal ini terjadi saat ini.
Keinginan itu sudah ada sejak cukup lama. Aku tahu banyak dari berita di jejaring sosial yang ada. Mengenai para pendahulu. Latar belakang adanya program itu, dan bagaimana solusi yang ditawarkan. Tertarik? Pasti. Terlebih lagi saat itu sedang diadakan lagi Open Recruitment. Tetapi saat itu load kerja tak memungkinkan untuk mempelajari program ini lebih dalam, apalagi menuliskan banyak essay panjang sebagai persyaratannya.
Aku tahu seorang temanku yang sangat semangat mengikuti program ini. Aku sangat menghargai usahanya. Dia publish usaha maksimalnya, seraya memohon dukungan dan doa dari teman-temannya. Tapi aku? Membuat essay-nya saja belum. Padahal saat itu deadline semakin mendekat.
Benar-benar dekat waktu pengumpulan, barulah semua essay ini dapat dilengkapi. Ku akui, menuliskannya saja membuat hati bergetar, membuat mata berkaca-kaca. Ini bukan sekedar mengisi essay rasanya, ini menuliskan sejuta harapan dan sejuta semangat yang kau punya untuk Negaramu. Sungguh!
Nothing to loose. Tak berani berharap banyak, tetapi juga tidak pesimis. Seperti pesan seorang sahabat, Biarkan Alam yang menghentikan langkah-ku ini. Just do it!
Dan ternyata, Alam masih mengizinkan langkah ini terayun.
Proses selanjutnya juga seperti itu. Jadwal yang ada benar-benar harus di sesuaikan dengan padat dan tidak jelasnya waktu kerja disini. Kuminta reschedule ke jadwal yang kurasa ada waktu kosong untuk datang ke Jakarta.
Di hari H pun, angin pesimis pun rasanya sangat kencang berhembus. Bagaimana tidak, yang hadir disana betul-betul pemuda/pemudi yang hebat secara apapun juga. Mapres Fakultas A, Pemimpin B, Pendiri C, anggota komunitas sosial D, karyawan perusahaan terkenal E, dan orang-orang ‘gila’ lainnya. Sementara aku? Bukan apa-apa sama sekali.
Ya sudahlah, masih dengan prinsip yang sama dan semangat yang sama ; Biarkan Alam yang menghentikan langkahmu. Tak mau ku ambil pusing dengan segala sesuatunya. Allah yang akan memilihkannya untuk kita, yang mana yang terbaik untuk kita.
Dan,seperti itulah jadinya. Alam masih mengijinkan langkah ini terus berlari.
Bukan tanpa goyah keinginan ini. Pendapat Orang tua, sahabat, dan pemikiran pribadi yang terus bergejolak. Istikhara bukannya belum di lakukan. Tapi gejolak memang masih kencang.
Wajar saja kufikir gejolak ini. Memilih meninggalkan kenyamanan finansial yang ada. Terfikirkan bagimana nantinya carier development yang ada saat ini. Memikirkan juga jauhnya dengan orang tua dan ketakutan jika terjadi apa-apa dengan mereka. Memikirkan bagaimana dengan persiapan ‘masa depan’ dengan seseorang dengan sedikitnya pemasukan yang ada nantinya.
Dan kekhawatiran itu pun terjawab. Ingatkah saat aku katakan sedang merenung? Saat itu lah, di pinggir pantai sebuah pulau, jawaban itu muncul. Jawaban sederhana.
Ku titipkan semuanya pada-Mu ya Allah.
Semua tentang masa depanku, karirku.
Semua tentang keluargaku.
Semua tentang jodohku.
Karena hanya Engkau yang menggenggam semuanya. Kutitipkan ya Allah, kutitipkan.
Ya, tak ada yang pasti. Titipkan saja semuanya pada-Nya. Semua berdasarkan kehendak-Nya.

Smart (and) phone :P
Hi, all. Now, I just want to share you my gadgets. They always accompany me traveling to everyplace, at least since I lived in Bandung.
.
~(Actually I just want to write something in English again,but I can’t find any topic to write. So,I just write something in my hand.
I miss English writing. )
They are not new phones (of course!). They actually not my mine. The first phone, N6300 is my mother phone. My mother used it after my father bought the new phone. Yes, this phone is like an heritage from my family.
. And also, my second phone, Sony Ericsson K530i is an heritage from my sister. All of them are just heritage from my family.
I have an opinion about electronic gadget. We know that every electronic gadget have limitations. Every month, especially for phone, vendor produces and launch the new phones. Not only one, even 3 phones in one month. And the impacts is the prices of the phone will be decreased. Why? Because the vendor also launch the new capabilities of their new phone, so you will feel that your new phone is the old phone. That’s always happen.
This phenomena is not suitable with the person like me that always think about investment. (Hehe). So, I prefer to use my phone, until they cant be used anymore.
However, these my phone are smart enough. I used my N6300 as a Modem (to connect the Internet). Although the speed is low (2G phone – max 20kbps ), I still can use this phone just for check email and browsing. I used this phone also as a gateway when I want to transfer the photo from my SE K530i to my computer. This phone also have a radio, and can storage some music files. I also can synchronized this phone with my outlook calendar, notes and contact. Smart enough, right?
For K530i, I used this phone as my digital camera. Ya, as we know, SE always have a better camera than Nokia.
. This phone also have a better speaker for listening the music. And one more things, this phone have a front camera, so I can use the video call for work.
See? All things already fulfilled with these 2 phones. Smart? Yes, every phone is smart when the user is smart. So, here me, Smart (people) and my (old) phone.
Morning Trip, Taman Tegalega #BandungUhuy
Pagi ini, serasa baru lahir kembali. #halah
Ya, maklum saja, biasanya aku menghabiskan pagi dengan aktifitas yang sama ; Tidur. Mau bagaimana lagi, kerja sekitar jam 11 malam sampai pagi. Eits, gak kerja macem-macem kok.. Buat yang belum tahu, kenapa harus malam kerjanya, mari kujelaskan sedikit.
Aku bekerja di vendor bidang Telekomunikasi, di sebuah perusahaan China yang paling maju di Indonesia (saat tulisan ini ditulis) dan sedang menangani sebuah operator muda (GSM Yang Baik – jargonnya) di Bandung. Nah, karena pekerjaannya saat ini adalah Swap ( Mengganti perangkat yang lama ke yang baru) maka, harus di malam hari. Karena, jika dilakukan di siang hari, pelanggan akan kebingungan karena tidak bisa menelpon dalam waktu sekitar 3 jam. Operator akan kebakaran jenggot jika itu terjadi, di complain pelanggan dan kehilangan profit pulsa yang di keluarkan pelanggan saat menelpon. That’s why, we have to work at the night (midnight), when only few user using their cellphone.
Nah, kemarin malam, aku tidak ada jadwal Swap malam, jadinya aku bisa tidur puas semalaman. Hal yang langka sekali aku temui.~haha. Bangun pagi-pagi segar, dan ingin lari pagi. Hitung-hitung diet - kurusin badan . #eh
Jarak dari kosan cuma 100 meter garis lurus. Jalan cuma 7 menit sampe di taman. Asik ya? ![]()
Karcis masuknya juga cuma 1000 sekali masuk. Bebas muter-muter taman sampe muntah, bebas naek semua wahana yang ada disana tanpa mengantri. #karena memang gak ada wahana apa-apa.

Cukup banyak yang lari pagi disini. Tapi kebanyakan dari mereka para senior. Ya mungkin mereka kalau kuliah angkatan 50-60an.
. #senior banget kan!
Lari pagi disini cukup menyenangkan. Udaranya segar, karena tamannya FULL dikelilingi pohon-pohon besar yang rindang. Ya, aku lari tidak terlalu lama. Cukup 6 kali putaran (1/2 putaran lari, 1/2 putaran jalan), sudah cukup membuat badan ngosh-ngoshan. Kalau yang tidak ingin lari, ada juga yang menyewakan Raket plus Koknya. Cukup 3000 saj, main deh, sampai kok-nya hancur.

Tidak hanya orang lari pagi yang bisa ditemui disini. Ada orang yang senam plus dengan instrukturnya. Ada juga berbagai macam pedagang dan dagangannya. Dari pedagan pakaian dalam sampai pedangan durian, dari pedangang belut hidup, sampai makanan siap makan. Tak lupa juga, ada beberapa orang yang meminta-minta.

Hmm..
Puas lari pagi, aku penasaran dengan sekeliling taman ini. Rasanya selama ini aku hanya lari saja keliling, belum menjamah pelosok taman. Fixed! Lelah berlari, aku menepi, membeli minuman gelas , lalu belok ke tepi taman. Dan benar dugaanku!
Banyak hal lain yang belum pernah ku lihat. Taman ini begitu segar di pinggir-nya. Pohon-pohon lebih rindang, segar. Dan disini lebih sepi, sehingga oksigen terasa sangat melimpah. Alhamdulillah.

Berjalan menyusuri sisi dalam taman, ada hal menarik lagi yang ku temukan disana. Ternyata, ada cukup banyak batu-batu seperti nisan, yang bertuliskan nama-nama negara di dunia. Dan ternyata, setelah kulihat sejarahnya, disini tahun 2005 para kepala negara berkumpul dan menanam pohon di taman ini.
Namun, bertepatan dengan digelarnya peringatan emas konferensi Asia Afrika di tahun 2005. Sejumlah kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara Asia Afrika berkunjung dan menanam lebih dari 25 jenis pohon di kawasan ini. Sumber
Aku kelilingi seluruh batu nisan tersebut, memang kebanyakan adalah negara Asia Afrika. Tapi tak sedikit juga negara-negara Eropa - Amerika yang ada disana. Satu hal yang aku tak habis pikir, nama Indonesia sangat sulit ditemukan. Batu Indonesia ada di pojok, ditempat yang jarang ada pejalan kali yang lewat. #helloo, Ini negara kita sendirii!!


Ohya, Alhamdulillah. Negara Palestina bisa ditemukan disini! And, NO ISRAEL HERE!

Puas foto-foto batu-batu itu, aku pun melanjutkan olahraga lagi. Sedikit push-up dan sit-up supaya badan lebih kekar. #Haha. Dan aku menemukan sebuah sarang burung raksasa yang sayangnya sudah tidak terurus lagi. Dan juga ada jembatan yang dibawahnya ada aliran air seperti sungai yang juga tidak terurus.

Aku bisa membayangkan, jika saja keseluruhan Taman Tegalega ini di urus dengan baik, pasti menjadi taman yang sangat indah. Apalagi yang kurang? Track Olahraga, taman bunga, monumen Bandung Lautan Api, Batu-batu negara di Dunia, Sarang Burung raksasa, lapangan sepakbola. Semuanya ada disini! Sayang sekali.. Padahal bukan tidak mungkin, taman Tegalega bisa menjadi salah satu transit para wisatawan mancanegara yang ingin ber wisata sejarah sekaligus menghirup udara segar.
Well, I am satisfied with this alone trip. Tegalega telah memulihkan mood-ku hari ini. Noted! . Thanks.
Ohya, tak lupa, aku kenalan dengan adik kakak Skateboarder. Hebat, lumayan jadi penghibur dengan atraksi-atraksi mereka. Aku minta izin mereka untuk mengambil beberapa foto dan video, dan boleh!
Urang Bandung ramah-ramah euy..
Nice to meet you, Dida and his brother.

Semoga saja
Begitu cepat.
Sederhana tetapi indah.
Tapi belum saatnya.
~~~
Kau benar, kita ingin semuanya baik.
Karena memang hanya yang baik yang benar-benar menenangkan hati.
Hanya yang benar, yang menentramkan jiwa.
Yang baik yang membahagiakan.
Semoga usaha ini di kuatkan oleh Allah Sang Maha Kuat.
Semoga akhir ini bisa menjadi awalan baru kembali.
Untuk akhir yang sesungguhnya, atau awal yang sesungguhnya.
Tak ada yang tahu kelanjutannya, kan?
Semoga Allah memberikan yang terbaik menurut-Nya.
Tapi satu hal saja kumohon.
Jangan hentikan nasihat-nasihat itu.
Jangan lelah bertafakur.
…

ceritanya lagi merenung..
Terlalu melankolis ya?
Biarlah. :p
Mereka yang Pantas
Sudah cukup lama aku tak menulis ..Terhitung, hampir 2 bulan semenjak tulisan terakhirku itu.
Dan saat ini, sebenarnya keinginan untuk menulis ‘jejak’ hidup ini belum sepenuhnya muncul. Tapi yang jelas, ini yang sedang ada di fikiranku.
Mungkin ini hanya untuk orang-orang terbatas, yang kenal denganku. Tepatnya kenal dengan aktifitasku.
__________________
Agak sulit menceritakannya. Ini mengenai sesuatu yang sebenarnya aku pernah ‘berdebat’ dengan seorang adik kelas.
Mengenai, pengakuan akan sesuatu hasil.
…
Bukannya tak menghargai kerja diri sendiri. Aku termasuk orang yang menghargai kerja diri sendiri, apalagi orang lain. Ku coba bangun kepuasan akan kerja yang telah diusahakan, bagaimanapun hasilnya. Ya,karena itu memang sepatutnya ditanamkan oleh orang yang telah bekerja keras. Apalagi di kegiatan-kegiatan yang sifatnya voluntary. Professional memang dibutuhkan, tetapi pendekatan penghargaan, persahabatan, kupikir lebih manusiawi.
Tetapi saat kau ‘dihargai’ melebihi apa yang kau rasa telah kau lakukan, rasanya janggal. Rasanya tak pantas merasakannya. Masih ada orang-orang lain yang lebih pantas.
Ataukah ini karena simbol? Atau sekedar permasalahan sosok? Tapi tetap saja, rasanya kurang pantas aku menerimanya.
..
Kerja-kerja hebat itu berasal dari mereka yang hebat. Pemikiran-pemikiran cerdas mereka. Ilmu-ilmu hebat mereka. Aku sekedar menggabungkan mereka, mempertemukan mereka, dan membuat mereka lelah berfikir untuk ini. Sekedar menyatukan mereka yang hampir tak punya waktu kosong.
..
Jadi tetap saja. Aku tak pantas merasakannya,kawan.
CI-001
Nikmat Yang Terlupa
Akhir-akhir ini, entah apa yang merasuki diriku. Entah apa yang sebenarnya mempengaruhiku, sehingga aku banyak mengeluh, banyak mencaci diriku sendiri. Hingga banyak kezaliman yang ku lakukan, dan aku menganggap itu pelampiasannya. Gila!
Tak lagi ada kelapangan hati kurasa. Jiwa penat, hati sesak. Mungkin itu yang hilang, sehingga linglung menjalani aktifitas. Allah sedang mengujiku, tapi ku sepertinya tak bisa melewatinya dengan baik.
Kekurangan selalu kurasa. Ku caci yang ada. Ku fikirkan yang tak ada. Merana. Begitu ternyata rasanya. Tak sadar aku mempelajarinya. Pelajaran kehidupan ke sekian. Semakin merana hidupnya karenanya.
Percayalah, memang bukan mudah menjalaninya. Mengalaminya. Kau punya seribu macam teori. Kau punya seribu alasan untuk berkata , “seharusnya begini”. Tunggu sampai kau ada di posisi itu, mungkin kau akan merasakannya. Atau mungkin kau bisa melewatinya dengan baik.
Entah kemana, hilangnya rasa syukur itu. Syukur menjadi sekedar pemanis bibir, hiasan dalam otak dan pemahaman. Dia tak lagi ada di hati. Entah kemana, entah kenapa. Tapi kuyakin karena iman.
Begitulah, ternyata adanya. Ketika kau tidak bersyukur akan sesuatu, kehidupanmu akan semakin sempit. Segalanya menjadi begitu rumit. Mungkin itu, sebagian dari Azab Allah yang langsung diberikan.
Tapi ketika syukur benar-benar terpatri dalam hati, bersemayam dalam jiwa, tak ada yang sempit. Tak ada yang rumit. Semua terasa begitu sederhana, semua terasa menyenangkan. Mungkin itu nikmat yang ditambahkan oleh Allah, yang pentingnya lebih penting dari nikmat yang kau syukuri. Nikmat ini yang kau luput menyadarinya. Nikmat itu ; nikmat kelapangan hati, nikmatnya bersyukur.
Ya Allah, tetapkan hati ini agar selalu di jalanMu.
Tetapkan ia untuk selalu bersyukur padaMu. Lembutkan ia kembali, ya Allah.
…Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua perbuatan kalian akan diperhitungkan untuk kalian kemudian diberikan balasannya, siapa yang banyak mendapatkan kebaikaan maka hendaklah dia bersyukur kepada Allah dan siapa yang menemukan selain (kebaikan) itu janganlah ada yang dicela kecuali dirinya. (Penggalan Hadist Arbain ke 24, HR.Muslim)

*terus bertafakur, dik.*
Maaf
Maaf..
Semoga pengingatan sederhanamu menjadi penjagaanku.
Semoga karena kuatnya langkahmu, kau selalu di teguhkan oleh Allah.
–
Tak pantaslah aku. Kuatkan dirimu. Akupun begitu.
Ingin Istirahat Lebih Lama
Hufft..
Kau tahu, kawan.
Aku baru saja turun gunung. Gunung Pangrango, Jawa Barat.
Banyak yang ingin aku ceritakan, tapi mungkin esok hari baru akan ku tulis. Saat ini aku lelah, dan tubuhku butuh istirahat untuk kembali ke kehidupan nyata Jakarta esok hari.
Tapi ada sedikit yang ingin ku bagi padamu. Aku merasa sangat senang. Sudah melepaskan semua penat selama 2 bulan pekerjaan, 1 tahun tugas akhir, dan berbagai kehidupan fana lainnya. Dan aku merasa, tak ingin waktu pergi begitu cepat.
Aku masih ingin istirahat lebih lama.
….
Tapi sedikit hikmah yang ku ingat dari perjalanan ini.
Saat mendaki gunung, pastinya ada masa untuk istirahat. Istirahat disaat lelah memang sangat penting, dan sangat menyenangkan. Tetapi, bukankah kita tetap harus berjalan menanjak kembali untuk menuju puncak ? Kembali melangkahkan kaki di bebatuan keras dan tajam, melompati pepohonan, dan terjatuh di tanah basah.
Seperti hidup
..
Tetap semangat mendaki kehidupan kembali!
9 Oktober 2011, 11.56
Setelah 7-9 Oktober 2011 mendaki Gunung Pangrango.
Selamat berjuang di kehidupan pasca kampus..
Sekarang aku sedikit mengerti tentang pesan umum ketika seseorang telah menyelesaikan masa studinya, umumnya jenjang sarjana ataupun vokasi. “ Selamat berjuang di kehidupan pasca kampus..”
Rupanya mungkin aku baru merasakan, atau mungkin baru menyadari bahwa sesungguhnya perjuangan di kehidupan pasca kampus bukan sekedar perkara “mencari pekerjaan yang baik untuk diri sendiri”.

Berbeda tentunya perjuangan yang dirasakan oleh setiap orang. Ada yang perjuangannya adalah bagaimana mendapat pekerjaan yang baik, ketika seseorang tersebut sulit (atau sedikit lebih lama di bandingkan yang lain) mendapat pekerjaan yang rasa baik. Ada juga yang perjuangannya adalah mencari penghasilan tambahan, ketika penghasilannya saat ini dia rasa kurang cukup. Ada yang kesulitan di jobdesk pekerjaannya, hubungan yang tidak baik dengan rekan ataupun atasan, tertekan kondisi sikut-menyikut rekan kerja dan yang lainnya.
Tapi belum ada perjuangan berarti yang kurasakan sejak awal aku memulai kehidupan itu. Syukur, tidak terlalu sulit dan lama untuk mendapatkan pekerjaan yang cukup baik – tentunya bukan tanpa kegagalan. Untuk ukuran karyawan berumur 2 bulan kerja, mungkin memang belum terasa perjuangan di tempat kerja. Sedikit tahu jika nyatanya ada beberapa rekan cari muka ketika di depan atasan, tidak terlalu mempengaruhiku. Jobdesk kerja dapat dikerjakan dengan maksimal, menurutku. Hingga waktunya (untuk merasakan godaan) pun tiba.
Kau tahu, yang paling besar menurutku adalah tentang uang. Ketika dihadapanmu rekan-rekanmu menambah penghasilan mereka, dan membuatnya lumrah. Dan kau memiliki kesempatan yang sama dengan mereka.
Pertarungan hati, kawan.
Disini lah ilmu (teori)-mu bertarung dengan kenyataan. Dimana keinginan-mu bertarung dengan hatimu. Dimana logika hati-mu bertarung dengan logika keinginanmu.
Ku pikirkan saat ini. Saat ini, aku masih sendiri, tidak ada tanggungan di pundakku. Perkara ini lebih mudah terjawab. Tetapi, jika nanti, di posisi seperti mereka yang mungkin sudah berkeluarga, kebutuhan bertemu dengan kesempatan. Kau bisa bayangkan bagaimana, kan?

…………….
Disini peran seorang keluarga terutama istri. Menjaga keinginan-keinginan itu timbul, dengan rasa cukup akan penerimaan.
Semoga kita bisa berjuang bersama, ya dik..
Untuk Adik #5 – Kenal
Dik, aku tak tahu sebenarnya apa yang ingin ku tulis saat ini.
Aku hanya ingin menulis denganmu.
Tak banyak yang aku tahu tentang dirimu. Dan sedikit yang memang ingin ku tahu. Tak ingin terlalu dalam mengenalmu. Dan bukankah memang sebaiknya aku tak mengenalmu terlalu jauh?
-
Aku hanya mengenalmu dari sedikit ceritamu. Cerita yang tak pernah kau katakan.
Sedikit tingkahmu yang tak pernah kulihat.
Sedikit azzam-mu yang tak pernah ku dengar.
Sedikit semangatmu yang tak pernah kurasakan langsung.
-
Tapi itu mungkin cukup, setidaknya untuk saat ini.
Melankolis
Aku sesungguhnya tidak mengerti betul apa arti istilah itu. Yang aku tahu, beberapa orang sering menyebutku mempunyai sifat itu.
Perasa ; itulah sedikit yang kupercaya ada padaku.
Kau yang mengenalku kawan, akan tahu bahwa aku bahwa bahkan aku pernah menangis di hadapan yang lain, ketika ada dalam situasi yang mengharukan. Mengharukan menurutku.
Pernahkah kau ada di situasi, kau memimpin sebuah lembaga, dan kau mempunyai permasalahan yang dapat membuat salah satu partner kepercayaanmu mengundurkan diri?
Pernahkah kau berada di akhir sebuah proses mendidik yang kau dan partnermu usahakan,melelahkan dan kau sadar kau ada di akhirnya?
Pernahkah kau berada dalam tanggung jawab yang besar dalam “mendidik sekelompok orang”, kau dan semua partnermu menaruh harapan yang sangat besar pada proses itu, tetapi proses itu berjalan sangat mengecewakan?
Pernahkah kau mempunyai teman yang sangat dekat, selalu mendukungmu saat kau jatuh tak punya harapan, dan dia pergi jauh?
Aku sering berdoa kepada Allah , ‘ Ya Allah, lembutkanlah hatiku , lembutkan hatiku.. ‘
Kau tahu mengapa aku berdoa seperti itu?
‘ Agar aku bisa terus peka terhadap sebuah kondisi, terhadap sebuah kesalahan, terhadap sebuah peringatan, terhadap sebuah harapan.’
Karena aku yakin, semuanya berawal dari hati, melewati hati, dan berakhir pada hati.

GIE kembali lagi..
So Hok Gie. Mahasiswa Sastra UI itu sudah menjadi legenda di dunia pergerakan Mahasiswa. Sosok mahasiswa keturunan China itu selalu membakar semangat peduli kepada rakyat, siapapun yang mendengar ceritanya, membaca bukunya, atau menonton filmnya. Seharusnya, dan biasanya.
Sebuah kalimat yang sangat terkenal darinya ;
Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
…………..

Saat ini, di kampus yang sama, Gie kembali hadir kawan.
Dia ‘dihadirkan’ sebagai reaksi perlawanan dari kesewenangan Pemimpin tertinggi kampus Rakyat itu. Dia menjadi ‘dendam’ yang terpendam bertahun-tahun di hati mahasiswa yang mau membuka mata. Bosan mungkin para Satpam menjaga Rektorat akan aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa.Menjadi tameng terdepan. Mereka hanya menjalankan tugas dari Atasannya, meskipun aku yakin mereka ikut menjerit, mengelus dada akan kebijakan-kebijakan beliau.
Saat ini Gie kembali lagi,. Beberapa hari setelah aku Wisuda dari kampus ini. Tapi kali ini Gie berbeda, dia muncul sebagai wujud keinginan yang memuncak. Demi menyelamatkan kampus tercinta
…………………..
Berikut ini adalah publikasi dari BEM UI, yang bercerita lengkap mengapa GIE harus ada kali ini,dan segera.
………………….
Bintang, Apa Kabar?
Sudah berminggu-minggu aku menghabiskan hari di tempat ini. Di tempat yang tinggi ini. Di lantai teratas dari sebuah menara di segitiga emas kota Jakarta. Bukan hanya siang hari, separuh malam pun ku habiskan di tempat ini.
Kuresapi malam demi malam di tempat ini. Tidak hanya sendiri memang. Bersama beberapa teman, dan juga rekan kerja dari perusahaan lain. Baik atasan dan bawahan. Semuanya tak terasa menghabiskan malam bersama, memupuk lelah dan kantuk di tempat ini. Tempat tertinggi ini.
Tidak buruk sesungguhnya disini. Pemandangan Jakarta yang indah di malam hari selalu menghiasi kaca yang selalu ku tatap. Sama seperti saat ini. Jakarta yang hiruk pikuk, padat dan sibuk, berangsur berganti menjadi sunyi menyala. Menyala dengan jutaan lampu yang berkilau dari kejauhan. Sinarnya Indah.
Tetapi tetap saja. Ada yang berbeda di dalam hati.
Ada yang kurindukan.
…………
Sinar alami yang sangat indah. Aku suka langit, dan isinya. Dan kini, ketika ku tatap langit di malam hari, meski selarut ini, tak lagi kutemukan sinar indahnya. Hilang entah kemana. Tak pernah kutemui lagi. Jakarta telah menyulap cahaya bintang menjadi cahaya sinar lampu.
………….
Tetap saja tak akan tergantikan.
Tak akan kau temukan cahaya ketenangan di dalam sebuah lampu.
…………
Apa kabar kau, bintang?

Language, 言語の, لغة
Haha..
What do you think about this title? You must be curious right with the content of this post?
Simple! It’s about how do you attract your reader with your writing!
However, I do not want to discuss about how to attract reader on writing. I just want to write about, how coooollll person who can speak many languages.
Do you know? Here, in my company, I met many person from many country and with different languages. Almost everyday I talk with my bos in Huawei, with English. He used English, but with Chinese accent. And I also met Axis Boss from Egypt, England and other European Country.
I like them, when they are talking with the people from same country. Chinese with other Chinese, Egyptian with Egyptian. And also same hometown, such as Minang with Minang.
I just want to know, what they are talking about! Haha..
I want to learn many languages. Just to overhear them!













Yang baru saja berkomentar..